GUNUNGKIDUL, Harianmuria.com – Kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali menyerbu lahan pertanian warga di Padukuhan Kelor, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ratusan monyet ekor panjang membuat petani resah karena tidak hanya memakan tanaman pertanian, tetapi juga merusak gubuk yang digunakan warga untuk beraktivitas di lahan.
Salah satu warga, Tukadi, mengatakan serangan monyet ekor panjang sudah kerap terjadi, terutama saat musim kemarau. Pada periode tersebut, kawanan satwa liar turun ke area pertanian untuk mencari sumber makanan.
“Monyet yang datang bisa ratusan ekor, biasanya saat pagi atau sore. Mereka tidak hanya menjarah ketela, kacang, dan tanaman pangan lainnya di lahan pertanian, tapi juga merusak gubuk petani,” tuturnya belum lama ini.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk mengurangi kerusakan, termasuk memasang jaring pelindung tanaman. Namun, cara tersebut belum mampu menghentikan serangan kawanan monyet.
Kondisi itu membuat petani berharap pemerintah daerah segera menemukan solusi untuk mengurangi konflik antara masyarakat dan satwa liar tanpa melanggar aturan perlindungan satwa.
“Mudah-mudahan ada solusi untuk penanggulangan dari pemerintah. Kami tidak berani menembak (monyet) atau memburunya, takut melanggar aturan pemerintah,” kata Tukadi.
Dukuh Kelor, Budi Sukarno, mengatakan konflik antara warga dengan monyet ekor panjang telah berlangsung cukup lama. Namun, intensitas serangan meningkat ketika musim kemarau tiba.
“Puncak serangan terjadi saat kemarau, mulai sekitar Juni. Tanaman pangan, bahkan rumput untuk pakan ternak habis dimakan monyet,” ujarnya.
Serangan tersebut membuat warga harus menghadapi kerugian tidak hanya dari tanaman pangan yang rusak, tetapi juga fasilitas sederhana yang digunakan untuk mendukung aktivitas bertani.
Pemerintah Kalurahan Kemadang telah melaporkan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Warga berharap penanganan dapat dilakukan untuk mengurangi konflik manusia dengan satwa liar tanpa menimbulkan persoalan baru.
Persoalan monyet ekor panjang di Gunungkidul sebelumnya juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk menekan konflik antara monyet ekor panjang dan masyarakat.
Salah satu langkah jangka pendek yang dilakukan adalah program pemberian pakan kepada kawanan monyet. Program tersebut dibiayai melalui Dana Keistimewaan dengan anggaran Rp160 juta pada 2026.
Pemberian pakan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kemungkinan kawanan monyet keluar dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian warga untuk mencari makanan.
Selain langkah jangka pendek, DLH Gunungkidul bekerja sama dengan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyusun strategi penanganan populasi monyet ekor panjang.
Salah satu rekomendasi yang muncul adalah pengendalian populasi melalui vasektomi, terutama terhadap monyet yang menjadi pemimpin koloni.
“Vasektomi pada monyet hanya salah satu opsi karena masih ada beberapa alternatif lain. Untuk menekan potensi konflik, maka populasi monyet harus ditekan,” tutur Edy.
Menurut Edy, populasi monyet ekor panjang di Gunungkidul diperkirakan telah mencapai lebih dari 1.000 ekor yang tersebar di 80 kalurahan.
Jurnalis: Lingkarnews Network









