SEMARANG, Harianmuria.com – Riswan Lasibo, S.STP., M.Si. dipercaya mengemban tugas sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Tengah. Sosok yang lahir di Kabupaten Sarigi, Sulawesi Tengah, 26 Agustus 1981, itu memiliki rekam jejak panjang di sejumlah instansi pemerintahan sebelum bergabung dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin).
Meski baru bergabung dengan Barantin pada April 2026, Riswan sebelumnya telah memiliki pengalaman di berbagai bidang pemerintahan. Ia mengawali karier sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Palu pada 2003 dan bertugas di tingkat kelurahan.
Dua tahun berselang, Riswan dipercaya menduduki jabatan sebagai lurah hingga 2010. Setelah itu, ia melanjutkan karier sebagai Sekretaris Camat sebelum kemudian beralih menjadi auditor di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Perjalanan kariernya berlanjut di tingkat pemerintahan pusat. Riswan bergabung dengan Kementerian Dalam Negeri dan mendapat tugas sebagai Kepala Subbagian (Kasubag) Program serta Kasubag Tata Usaha di Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).
Ia kemudian dipercaya menduduki jabatan eselon III di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai Kepala Subdirektorat Pengendalian. Kariernya terus berkembang hingga pada 2024 dipromosikan menjadi pejabat eselon II sebagai Kepala Biro OSDM KP2MI.
Pada 2025, Riswan kemudian dirotasi untuk mengemban jabatan sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pemberdayaan KP2MI. Setahun berikutnya, ia bergabung dengan Badan Karantina Indonesia sebagai Inspektur.
Sebelum dipercaya memimpin BKHIT Jawa Tengah, Riswan sempat menjalankan tugas sebagai Plt Kepala Biro Perencanaan Barantin. Pengalaman lintas instansi tersebut menjadi bekal dalam menjalankan tugasnya di bidang karantina.
Dalam kepemimpinannya di BKHIT Jawa Tengah, Riswan menempatkan integritas sebagai salah satu prinsip utama dalam memberikan pelayanan publik. Menurutnya, kemampuan teknis dan pengetahuan dalam perencanaan tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak dibarengi dengan integritas.
Selain memperkuat integritas, Riswan juga mendorong perubahan pola pikir dalam pelayanan karantina. Ia ingin mengubah persepsi masyarakat yang masih menilai pelayanan karantina belum sepenuhnya memberikan kepastian, baik dari sisi biaya, waktu penyelesaian, prosedur, persyaratan, maupun informasi.
Ke depan, BKHIT Jawa Tengah di bawah kepemimpinannya diarahkan untuk memberikan kepastian dalam setiap proses layanan kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Riswan juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan karantina. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah pemanfaatan teknologi robotik berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses pemeriksaan komoditas.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan sekaligus membantu mengatasi keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki.
Menurut Riswan, karantina memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ancaman terhadap sektor pangan tidak hanya datang dari faktor alam, tetapi juga berpotensi berasal dari masuknya hama, penyakit hewan, maupun organisme pengganggu tumbuhan.
Ancaman tersebut dapat berdampak terhadap sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan. Karena itu, penguatan sistem karantina dinilai menjadi bagian penting dalam melindungi produksi pangan nasional.
Di sisi lain, Riswan juga menargetkan sektor karantina dapat berkontribusi lebih besar dalam mendorong peningkatan ekspor. Sistem karantina yang kuat dinilai dapat membantu memastikan produk pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan memenuhi standar mutu internasional.
Ia berharap para petani, peternak, dan pelaku usaha lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dapat berkembang menjadi eksportir yang mampu menembus pasar global.
Dari sisi pendidikan, Riswan merupakan lulusan sarjana (S1) Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister (S2) di Universitas Tadulako, Palu.
Saat ini, Riswan juga tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Dengan pengalaman birokrasi yang melintasi pemerintahan daerah hingga sejumlah lembaga pemerintah pusat, Riswan kini menghadapi tantangan baru untuk memperkuat peran BKHIT Jawa Tengah dalam menjaga keamanan hayati sekaligus mendukung peningkatan daya saing komoditas Indonesia di pasar internasional.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid











