KENDAL, Harianmuria.com – Sejumlah petani bawang merah di Kabupaten Kendal mengaku tidak dapat merayakan hari raya Idulfitri dengan penuh suka cita. Pasalnya, harga bawang merah di tingkat petani mengalami penurunan drastis menjelang momen lebaran.
Harga jual hasil panen bawang merah di tingkat petani dilaporkan anjlok tajam, dan jauh dari harga normal. Kondisi ini membuat para petani terpukul karena pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Di sejumlah sentra produksi bawang merah, satu siring lahan yang biasanya mampu menghasilkan hingga Rp30 juta, kini hanya dihargai sekitar Rp12 juta. Penurunan ini terjadi hampir merata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum.
Salah satu petani setempat, Suwanto (56), mengatakan kondisi tersebut sangat memberatkan. Ia menyebut biaya produksi seperti pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja tetap tinggi, sementara harga jual justru merosot tajam.
“Biasanya satu siring bisa sampai Rp30 juta, sekarang hanya Rp12 juta. Jelas merugi. Biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja tetap tinggi,” ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.
Menurutnya, anjloknya harga bawang merah dipicu panen raya yang terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Hal itu menyebabkan pasokan melimpah di pasaran sehingga harga jual ikut turun drastis.
Untuk menyiasati kerugian, para petani mengambil langkah alternatif dengan menjual sebagian hasil panen dan menyimpan sisanya sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.
“Kami jual sebagian saja untuk kebutuhan, sisanya kami bawa pulang untuk bibit. Kalau semua dijual, nanti malah harus beli lagi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Muqodim (58), petani lainnya di wilayah tersebut yang juga mengalami kondisi serupa. Ia mengaku hasil panennya ikut terdampak harga yang jatuh.
“Kondisinya sama, harga turun jauh. Mau tidak mau kami juga harus jual sebagian, sisanya disimpan untuk bibit,” kata Muqodim.
Para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk menstabilkan harga serta membantu menekan biaya produksi agar mereka tidak terus merugi, terutama di momen penting seperti Lebaran.
Jurnalis: Anik Kustiani










