• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

NgAllah Suluk Maleman: Sujud di Tengah Guncangan Zaman

ulfa puspa by ulfa puspa
16 Maret 2026
in Artikel, Highlight, Kajian Agama
93 1
Anis Sholeh Ba’asyin dan Bambang Mursito dalam NgAllah Suluk Maleman “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu, 14 Maret 2026. (dok for Harianmuria.com)

Anis Sholeh Ba’asyin dan Bambang Mursito dalam NgAllah Suluk Maleman “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu, 14 Maret 2026. (dok for Harianmuria.com)

726
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Sujud secara semantik bermakna ketundukan mutlak, kepatuhan dan merendahkan diri baik secara jasadi mau pun ruhani. Bila Islam dimaknai penyerahan mutlak kepada Allah, maka sujud adalah manifestasi puncaknya. Bila Islam dimaknai kedamaian, maka sujud adalah bentuk paling sempurna untuk meraihnya.

Ini diungkapkan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai simpul penjelasannya dalam Suluk Maleman bertajuk “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Anis menjelaskan bahwa semesta, mulai dari materi, tumbuhan hingga binatang, bahkan seluruh unsur pembentuk tubuh kita sebagai manusia tidak pernah tidak dalam kondisi bersujud; hanya kesadaran manusia yang punya dua kemungkinan: ikut bersujud bersama seluruh elemen semesta, atau berjalan mendongak dengan kepongahannya.

Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban modern dibangun dengan dua keangkuhan: pertama, mengganggap manusia sebagai pusat semesta. Kedua, materi sebagai satu-satunya fakta. Kedua landasan ini membuat kerapuhan bawaan peradaban yang di bangun manusia, menjadi tampak semakin nyata.

“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.

Seperti diketahui, konstruksi rumah laba-laba adalah kontruksi bangunan terkuat. Mampu menahan beban berlipat meski disusun dengan jaringan yang lebih tipis dari benang. Tapi, kenyataannya, cukup dengan sentuhan ringan tangan bayi sekali pun, rumah tersebut akan porak-poranda. Menurut Anis, dari sinilah asal-usul istilah kalang-kabut dalam bahasa Indonesia, yakni kal-ankabut, seperti laba-laba.

Anis menyebut bahwa peradaban modern banyak menanamkan ilusi dalam kesadaran kita semua. Salah satu ilusinya adalah kebahagiaan bisa diraih dengan kelimpahan material, dengan kekayaan. Padahal salah satu teori ekonomi menyebut bahwa kesenangan hanya akan didapat ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kali.

Pertama, punya motor orang akan senang tetapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang. Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan.

“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.

Obsesi mengejar ilusi, membuat manusia lupa pada anak, keluarga, tetangga, bahkan negara.

“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah carut marut peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.

Anis menambahkan, salah satu cara agar tak terjerumus yakni dengan sujud.

“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.

Pria yang juga banyak membuat karya sastra itu menyebut, dengan mengingat Allah, maka dapat membuat hati menjadi tenang.

“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.

Dalam kesempatan tersebut, Anis juga menyinggung serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Menurut Anis, peperangan ini banyak mengajarkan hal yang besar bagi kita. Salah satunya: Amerika yang dianggap super power dalam pertahanan, justru kewalahan saat melawan Iran. Bangsa yang telah diembargo selama 45 tahun tapi justru mampu berdaulat.

“Puluhan tahun diembargo, tapi tekhnologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu tekhnologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dollar Amerika,” imbuh dia.

Anis menyebut hal itu bisa terjadi karena di Iran nasionalismenya cukup kuat dan ini dikombinasikan dengan semangat keagamaan yang juga mengakar kuat. Adanya serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu.

“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal ke kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.

Hampir 3,5 jam pengajian yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berlangsung, membuat jamaah yang mengikutinya secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial terlarut menyimaknya. Musik Sampak GusUran juga menjadi penghangat jalannya Suluk Maleman tersebut.

Jurnalis: Lingkarjateng Group Network

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
SummarizeShare52SendShare
Previous Post

Sempat Ambrol, Jembatan Menawan Kudus Sudah Bisa Difungsikan Lagi

Next Post

Anggaran THR ASN Jepara Rp57,3 M, PPPK Paruh Waktu Dapat Alokasi Rp467,5 Juta

ulfa puspa

ulfa puspa

Berita Terkait

Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

by ulfa puspa
16 Oktober 2026
504

KENDAL, Harianmuria.com – Kawasan sempadan Sungai Kendal di Kelurahan Kebondalem padat bangunan rumah hingga warung mengakibatkan pekerjaan normalisasi kali tidak bisa optimal. Bahkan, petugas harus menunda sementara karena...

Jepara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis, 11 Desa Dilanda Krisis Air Bersih

Jepara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis, 11 Desa Dilanda Krisis Air Bersih

by ulfa puspa
16 Oktober 2026
507

JEPARA, Harianmuria.com – Krisis air bersih di Kabupaten Jepara meluas di tengah status awas kekeringan meteorologis. Tercatat 16 desa di berbagai kecamatan kesulitan mendapatkan air bersih. Kepala Bidang...

DPRD Grobogan Setujui Propemperda Penyesuaian Kelembagaan BPBD

DPRD Grobogan Setujui Propemperda Penyesuaian Kelembagaan BPBD

by ulfa puspa
16 Oktober 2026
504

GROBOGAN, Harianmuria.com – DPRD Kabupaten Grobogan menyetujui perubahan Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda) Tahun 2026 terkait penyesuaian kelembagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ketua DPRD Grobogan, Lusia Indah...

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) menandatangani Nota Kesepahaman di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. (Dok. KP2MI)

Perkuat Kemandirian Ekonomi, KP2MI Gandeng FPPI Berdayakan Perempuan Pekerja Migran Indonesia

by Redaksi
16 Oktober 2026
515

JAKARTA, Harianmuria.com – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggandeng Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan pekerja migran Indonesia (PMI) dan keluarganya. Kolaborasi tersebut...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
544
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
530
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
531
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
547

TRENDING HARI INI

  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    209 shares
    Share 84 Tweet 52
  • OTT KPK di Klaten: Uang Rp1 Miliar Disita, 20 Orang Diamankan Termasuk Bupati Klaten

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Bupati Harno Dorong Warga Rembang Rajin Menabung dan Berani Kembangkan Usaha

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Desa Bakaran Wetan, salah satu Desa Wisata yang ada di Kabupaten Pati. (Instagram @desawisatabakaranwetan/Harianmuria.com)

Liburan Sambil Belajar Budaya di 12 Desa Wisata Kabupaten Pati

14 Oktober 2022
1k
Pulau Panjang Jepara menjadi destinasi favorit untuk healing berkat pasir putih, laut tenang, dan suasana alami yang menenangkan.

Pulau Panjang Jepara, Destinasi ‘Healing’ Favorit dengan Pasir Putih dan Laut Tenang

6 Desember 2025
721

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya