Harianmuria.com – Seorang guru ahli thoriqoh sekaligus penyebar agama Islam di Pati, Jawa Tengah, Syaikh Ahmad Mutamakkin dikenal juga sebagai ahli dalam mengajarkan ilmu tauhid, fiqih, dan tasawuf.
Pada 7 Agustus 2022 yang bertepatan dengan 9 Muharam 1444 H, masyarakat desa Kajen, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati baru saja merayakan haul sekaligus buka luwur atau kain mori penutup makam dari mubaligh yang kerap disapa Mbah Mutamakkin.
Mengingat tentang sosok Mbah Mutamakkin seolah lekat dengan pesan ajarannya tentang cara mengenal diri sendiri. Sebab berdarasarkan keterangan dari salah satu keturunan atau dzuriyyah Mbah Mutamakkin sekaligus Pengasuh Ponpes Roudloh At Thohiriyah KH. Muadz Thohir, bahwa ternyata mengenal diri sendiri itu merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.
“Kalau saya melihatnya sampai sekarang berkembang itu memang bagaimana seseorang itu bisa melihat diri, mengenal diri sendiri, itu menurut saya ajaran Mbah Mutamakin yang paling utama, sebab memang ternyata mengenal diri itu tidak mudah,” katanya.
Mengenal diri dalam hal ini berarti bahwa manusia tersebut menyadari tentang adanya konotasi ketidakmampuan, memiliki kelemahan, punya kelebihan, dan kekurangan. Sadar akan segala konotasi ketidakmampuan sebagai manusia biasa itulah sebagai upaya mengenalkan diri menuju jalan ke arah Sang Maha Pencipta.
“Artinya orang itu kalau mengenal dirinya bahwa dia itu benar-benar manusia yang punya konotasi ketidakmampuan, punya kelemahan, punya kelebihan, punya kekurangan. Lah mengenal diri untuk ke sana sebagai makhluk Allah itu menurut saya yang paling ditekankan Mbah Mutamakin,” terangnya.
Pernah ada suatu cerita, dimana saat itu Mbah Mutamakkin melatih dirinya agar mampu menguasai hawa nafsunya sendiri dan bukan sebaliknya. Mbah Mutamakkin menjalankan puasa dengan meninggalkan makan dan minum selama 40 hari. Setiap kali Mbah Mutamakkin berbuka, ia akan meminta istrinya untuk membuatkannya masakan lezat. Namun ketika saat hendak dihidangkan, Mbah Mutakamakkin justru dengan sengaja mengikatkan dirinya pada tiang rumah, dan dengan pertolongan Allah ia akhirnya dapat mengalahkan hawa nafsunya sendiri.
Bahkan dari riyadhoh dan tirakat yang dijalaninya itu, Mbah Mutamakkin dikaruniai karomah dengan munculnya dua ekor anjing bernama Abdul Kohar dan Qomaruddin.
“Dulu konon ceritanya ketika beliau riyadhoh tirakat bagaimana nafsunya itu agar bisa dikuasai oleh dirinya sendiri bukan nafsu menguasai diri tapi nafsu dikuasai oleh Mbah Mutamakkin itu ketika sudah puncak nafsu itu muncul dua ekor anjing yang diberi nama Abdul Kohar dan Qomaruddin,” ungkapnya.
Namun karomah yang dimiliki oleh Mbah Mutamakkin itu justru menimbulkan kontroversi pada masa itu, mengingat ada sebuah omongan seorang ulama dianggap cacat keilmuannya apabila memelihara seekor anjing.
“Pada masa itu kenapa dipermasalahkan karena pada masa itu adalah madzhab ulama Indonesia itu madzhab Syafi’i bukan Maliki. Kalau Maliki itu tidak masalah ada anjing kan. Jadi kalau orang Indonesia kalau ngulama kok ngingoni asu termasuk cacat begitu,” lanjutnya.
Meskipun sempat mendapatkan pergolakan pada masa itu, namun Mbah Mutamakkin akhirnya bisa membuktikan karomahnya pada saat dirinya hendak dihukum bakar oleh Pemerintah Kesultanan Solo yang dipimpin Pakuwono II. Dimana dua anjing miliki Mbah Mutamakkin tidak terbakar saat mencoba mengambilkan terompah miliknya ketika dengan sengaja dilempar ke arah bara api yang berkobar.
Dari karomah itulah Mbah Mutamakkin berhasil menjadikan Pakubuwono II menjadi santrinya hingga membuat jalan dakwah Islam berhasil di daerah tanah merdikan atau sebutan desa Kajen pada masa itu. (Lingkar Network – Harianmuria.com)









