KUPANG, Harianmuria.com – Suasana panas siang di Kupang tak menyurutkan semangat ratusan mahasiswa yang menggelar aksi di depan Gedung DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT). Orasi lantang bergema, spanduk terangkat, dan barisan aparat berdiri siaga menjaga jalannya demonstrasi.
Di sepanjang Jalan El Tari, aparat kepolisian dan TNI bersiaga dengan rapi, menjaga ketertiban tanpa menimbulkan ketegangan. Barisan pagar kawat yang dipasang bukan untuk memisahkan, melainkan menandai batas aman bagi jalannya aspirasi.
Di tengah potensi ketegangan, Gubernur NTT Melki Lakalena muncul tanpa podium dan tanpa jarak. Dengan langkah sederhana, ia mendekati massa dan berdiri langsung di hadapan mahasiswa. Sorot matanya menenangkan, gerak tangannya menunjukkan niat tulus untuk mendengar.
“Mahasiswa tidak boleh dimatikan suaranya. Mereka bagian dari kita yang ingin NTT lebih baik,” ucap Melki.
Bagi Melki, mendengar suara mahasiswa bukan hal asing. Sebelum menjadi gubernur, ia dikenal sebagai aktivis dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal PMKRI Pusat. Pengalamannya sebagai orator muda membuatnya paham betul kegelisahan kaum mahasiswa.
Demokrasi Damai di Tanah Toleransi
Malam sebelum aksi, Melki bersama Forkopimda menggelar doa lintas iman. Doa-doa itu menjadi ikhtiar menjaga NTT sebagai tanah toleransi. Hasilnya terlihat: demonstrasi berjalan damai, aparat TNI-Polri berjaga tanpa intimidasi, dan mahasiswa menyuarakan aspirasi tanpa kekerasan.
Kontras dengan aksi ricuh di beberapa daerah lain, Kupang memperlihatkan wajah demokrasi yang teduh. Tidak ada api, tidak ada lemparan batu. Yang ada hanyalah suara lantang yang disampaikan dengan cara bermartabat, serta seorang pemimpin yang hadir sebagai pendengar.
Kepemimpinan yang Lahir dari Kesederhanaan
Kehadiran Melki di tengah massa membuktikan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal keputusan besar, melainkan juga tentang telinga yang mau mendengar.
Hari itu, halaman Kantor DPRD NTT menjadi ruang demokrasi yang indah: mahasiswa berorasi dengan idealisme, aparat menjaga dengan sabar, dan gubernur mendengar dengan hati.
NTT yang kerap dicap miskin justru memperlihatkan kekayaan lain: semangat persaudaraan, toleransi, dan ketulusan warganya. Di tanah ini, demokrasi tidak melukai, melainkan merangkul.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki







