KUDUS, Harianmuria.com – Nida Saidatul Iza resmi dilantik sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kudus dari Fraksi PDI Perjuangan untuk sisa masa jabatan 2024–2029. Ia menggantikan almarhum H. Peter Muhammad Faruq yang wafat pada 28 Mei 2025.
Pelantikan dilakukan dalam Rapat Paripurna Penggantian Antar Waktu (PAW) yang digelar di Gedung DPRD Kudus, Kamis, 7 Agustus 2025. Prosesi pengambilan sumpah/janji dipandu langsung oleh Ketua DPRD Kudus, H. Masan, SE, MM.
Dilantik Berdasarkan Keputusan Gubernur Jateng
Petikan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100/3/3/1-256 Tahun 2025 dibacakan oleh Sekretariat DPRD Kudus, Yussi Dwi Sasepti. Dalam surat tersebut, Nida secara resmi diangkat sebagai anggota DPRD menggantikan H. Peter Faruq, dan pengangkatan berlaku sejak sumpah diucapkan.
Diharapkan Bawa Ide Segar di Legislatif
Masan menyambut baik kehadiran Nida sebagai wajah baru perempuan muda di DPRD. Ia menilai kehadiran Nida akan membawa semangat dan ide segar dalam lembaga legislatif.
“Harapannya karena beliau perempuan dan muda, harus lebih enerjik, hadir di tengah masyarakat, dan mewarnai lembaga ini dengan aspirasi segar,” ujar Masan.
Latar belakang Nida sebagai anak dari keluarga kepala desa juga dinilai menjadi modal penting dalam memahami tugas-tugas pemerintahan, terlebih karena ia akan bertugas di Komisi A DPRD, yang berfokus pada urusan pemerintahan.
Representasi Anak Muda dan Perempuan
Acara pelantikan juga dihadiri oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, pejabat daerah, pengurus DPC PDI Perjuangan, serta keluarga besar Nida. Bupati menyampaikan ucapan selamat kepada Nida dan menegaskan pentingnya keterwakilan generasi muda serta perempuan dalam pembangunan daerah.
“Kita berharap suara anak muda dan perempuan bisa lebih terwakili. Ini adalah amanah besar yang menuntut integritas dan akuntabilitas,” ujar Sam’ani.
Komitmen Perjuangkan Isu Perempuan dan Anak
Nida menyampaikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan oleh partai dan masyarakat. Ia berkomitmen untuk turun langsung ke masyarakat dan memperkuat ruang dialog – khususnya dengan perempuan, anak muda, dan kelompok rentan lainnya.
“Saya ingin lebih sering turun ke lapangan, membuka ruang dialog, dan menyuarakan isu seperti stunting, pemberdayaan perempuan, kader PKK, hingga Posyandu. Kita harus melek politik agar kebutuhan kita tersampaikan,” ujarnya.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki











