GROBOGAN, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan terus mengintensifkan berbagai upaya penurunan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Grobogan tercatat sebesar 20,8 persen, jauh di atas target nasional sebesar 14 persen.
Untuk menekan angka tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan menggulirkan program Pediatric Social Responsibility (PSR), sebagai langkah promotif dan preventif. Program ini berlangsung mulai 17 hingga 24 Juli 2025 di sejumlah Puskesmas.
“Pekan ini kita ada PSR, dimulai sejak 17 sampai 24 Juli. Penutupan akan digelar saat Car Free Day (CFD),” ujar Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko MAP, Selasa, 22 Juli 2025.
PSR Tanggung Jawab Sosial Dokter Anak
PSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial dari dokter spesialis anak. Melalui program ini, masyarakat mendapatkan layanan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan anak, hingga konsultasi langsung, tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit besar.
Ibu hamil dan balita dalam program ini juga menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal. Bagi balita dengan masalah gizi diberikan suplemen tambahan, sementara ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) menerima PMT-Pemulihan (PMT-P).
Skrining dan Edukasi Jadi Kunci
Dinkes Grobogan juga memperkuat skrining tumbuh kembang bayi di Posyandu. Bayi yang tidak mengalami peningkatan berat badan selama dua bulan berturut-turut segera dirujuk untuk penanganan lebih lanjut.
“Kalau berat badan bayi tidak naik satu hingga dua kali penimbangan, harus segera dievaluasi di Puskesmas agar bisa ditangani cepat,” jelas dr Djatmiko.
Selain itu, edukasi tentang gizi seimbang dan pola asuh juga digalakkan. Salah satu kendala di lapangan adalah pemberian MP-ASI yang keliru, seperti hanya memberi pisang atau bubur instan tanpa kombinasi protein dan karbohidrat yang memadai.
“MP-ASI tidak boleh diganti dengan susu formula, apalagi di usia 6 bulan. Pola makan ini sangat penting untuk cegah stunting,” tegasnya.
48 Lokus Stunting Jadi Fokus Intervensi
Pada 2025, Pemkab Grobogan menetapkan 48 lokus stunting sebagai wilayah prioritas intervensi. Diikuti 41 lokus tambahan pada tahun 2026. Kader Posyandu dan pemerintah desa di area tersebut menerima pelatihan intensif untuk memaksimalkan pendampingan keluarga berisiko stunting.
“Kami harap masyarakat aktif datang ke Posyandu, mengikuti pemeriksaan, dan menerapkan pola makan sehat. Tanpa dukungan orang tua, program ini tidak bisa optimal,” pungkas dr Djatmiko.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki











