KAB. SEMARANG, Harianmuria.com – Sebanyak 4.325 ekor hama tikus berhasil ditangkap untuk dimusnahkan pada kegiatan gropyokan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tikus secara serentak di lima kecamatan di Kabupaten Semarang, Minggu (20/4/2025).
Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang untuk mengatasi serangan hama tikus yang menjadi faktor utama terjadinya puso atau gagal panen di lahan persawahan.
Gropyokan serentak yang melibatkan ratusan petani dan berbagai elemen masyarakat ini dilakukan di wilayah sekitar Danau Rawa Pening, meliputi Kecamatan Banyubiru, Tuntang, Bawen, Jambu, dan Ambarawa.
Salah satu petani asal Desa Sraten, Kecamatan Tuntang, Sinwan (60) mengaku kesal dan geram dengan munculnya serangan hama tikus di lahan-lahan persawahan itu, hingga menyebabkan dirinya mengalami gagal panen di awal tahun 2025.
“Tadi saya tangkap 72 ekor tikus, saya pukuli hama-hama tikus itu karena jengkel, lalu saya masukan ke dalam karung yang saya duduki ini,” katanya saat ikut melakukan gropyokan massal.
Sinwan kesal lantaran serangan hama tikus itu menyebabkan lahan persawahan miliknya tidak satupun menghasilkan bulir-bulir padi.
“Sebelum acara ini pun sehari-harinya saya tangkap sendiri hama-hama tikus ini tapi jumlahnya makin banyak. Saya jengkel sekali karena saya mengalami gagal panen,” ungkapnya.
Ia menuturkan, serangan hama tikus di sawahnya makin parah sejak bulan Ramadan kemarin. “Sampai-sampai dalam semalam, satu hingga tiga kotak lahan sawah rusak dan habis,” ujarnya.
Bagi Sinwan dan para petani lainnya, gropyokan hama tikus ini bukan hanya sekadar aksi menangkap hama tikus itu, tapi ada juga luapan kekesalan dan marah atas kerusakan yang ditimbulkan hama itu.
“Ya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan musim panen berikutnya, karena diberi obat pun percuma tidak bakal mati itu tikus. Jadi harus ditangkap dan dipukuli supaya bisa diberantas,” imbuh Sinwan.
Rencananya, di bulan Mei nanti Sinwan akan kembali menanam tanaman padi, meski modal untuk menanam padi ini tidak sedikit.
“Biayanya sekitar Rp 10 juta per hektare untuk menyiapkan lahan pertanian untuk kembali ditanami lagi padi. Susah karena sekarang sudah gagal panen, uang dari mana, ya harus cari modal lagi, berutang kalau perlu,” keluhnya.
Baca juga: Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen Diserang Tikus, Petani di Kabupaten Semarang Rugi Ratusan Juta
Kepala Desa Sraten Rochmat merasa prihatin karena serangan hama tikus ini menyebabkan lahan pertanian di desanya mengalami puso atau gagal panen. Seharusnya para petani bisa panen di bulan Maret dan April 2025 jika tidak diserang tikus.
“Para petani tidak bisa penen karena hama tikus ini, yang seharusnya bisa dapat uang untuk Lebaran, tapi tidak jadi karena puso seperti ini,” katanya.
Menurut Rohmat, merebaknya hama tikus itu dipicu luapan air di Danau Rawa Pening, yang menyebabkan populasi hama tikus ini menyebar luas di wilayah-wilayah sekitar Danau Rawa Pening.
“Kondisi air di Danau Rawa Pening ini sangat berpengaruh, karena hama tikus ini memang rumahnya di sana. Begitu airnya meluap karena intensitas hujan yang tinggi sampai sekarang, maka hama tikus ini masuk ke area persawahan di wilayah yang dekat dengan danau, termasuk Desa Sraten ini,” terangnya.
Ia menambahkan, lahan persawahan yang yang mengalami puso akibat hama tikus ini ada sekitar 25 hektare, dari total 60 hektare lahan sawah di Sraten. Menurutnya, kegiatan gropyokan hama tikus itu memang harus dilakukan secara serentak, karena jika dilakukan satu persatu tidak akan efektif.
“Setelah adanya Gerdal ini, kami akan serentak melakukan tanam bersama, hal ini supaya hama tikus ini tidak kembali muncul. Karena memang harus serentak, pengendaliannya dilakukan serentak, tanam tanaman padi pun harus serentak untuk memutus populasi hama tikus ini,” bebernya.
Pada kegiatan Gerdal Hama Tikus secara serentak ini juga turut diperlombakan. Hal itu dilakukan sebagai motivasi seluruh unsur masyarakat untuk menangkap hama tikus sebanyak mungkin.
Dari perlombaan tersebut dihasilkan tiga juara, yaitu juara pertama diraih Gapoktan Karya Makmur asal Brongkol, Kecamatan Jambu dengan total tangkapan hama tikus mencapai 835 ekor.
Kemudian juara kedua KT Maju dari Dusun Demakan, Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru dengan total 492 ekor, disusul juara ketiga KT Handayani dari Dusun Deles, Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru dengan total tangkapan 390 ekor.
Data Dispertanikap Kabupaten Semarang mencatat total hama tikus yang tertangkap di lima kecamatan mencapai 4.325 ekor. Gerdal Hama Tikus ini rencananya akan dilakukan berturut-turut selama satu hingga dua minggu ke depan hingga populasi hama tikus ini hilang dari area persawahan petani.
(HESTY IMANIAR – Harianmuria.com)










