Sabtu, Januari 10, 2026
  • Box Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kerjasama & Iklan
Harianmuria.com
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV
No Result
View All Result
Harianmuria.com
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV
No Result
View All Result
Harianmuria.com
No Result
View All Result

Beranda - Kajian Agama - Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Memerdekakan Diri dari Penjajahan Nafsu

Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Memerdekakan Diri dari Penjajahan Nafsu

Sekar Sari by Sekar Sari
20 April 2023 20:49
in Kajian Agama, Khazanah
0 0
Anis Sholeh Ba’asyin dan Sampak GusUran dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Peradaban Api’ yang digelar Sabtu (15/4) kemarin. (Istimewa/Harianmuria.com)

Anis Sholeh Ba’asyin dan Sampak GusUran dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Peradaban Api’ yang digelar Sabtu (15/4) kemarin. (Istimewa/Harianmuria.com)

Share on FacebookShare on WatsApp

Harianmuria.com – Peradaban modern adalah peradaban yang dicirikan oleh keserakahan. Demikian Anis Sholeh Ba’asyin membuka Ngaji NgAllah Suluk Maleman dengan mengutip Joseph E. Stiglizt, pemenang Nobel 2001 untuk bidang ekonomi.

“Keserakahan adalah bentuk pelampiasan nafsu. Dari sudut ini, peradaban modern bisa disebut sebagai peradaban yang memosisikan nafsu sebagai pengendali dan panglimanya. Padahal nafsu hanya satu unsur dari diri manusia. Unsur yang seharusnya dikendalikan, bukan mengendalikan,” jelas Anis pada forum yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Sabtu (15/4) malam.

Ketika nafsu yang secara simbolik digambarkan sebagai unsur api dijadikan panglima; maka kebakaran, penghangusan terjadi dimana-mana. Secara kasat mata kita bisa melihat dan merasakan bahwa semakin kesini peradaban ini semakin memperlihatkan daya rusaknya yang luar biasa; bukan hanya pada alam dan mahluk yang hidup di dalamnya, tapi juga pada kehidupan manusia dan kebudayaannya.

Api adalah unsur yang secara hakiki rendah, maka ia butuh ditinggikan. Dalam kaitan ini, kita lihat betapa peradaban modern acap menganggap tinggi dan mulia hal-hal yang sejatinya rendah. Obsesi dan pemujaan yang luar biasa pada segala yang bersifat materi dan jasadi adalah salah satu contohnya.

Sementara dalam laku manusia, itu tercermin antara lain dalam kesombongan dan sikap tinggi hati. Laku-laku semacam ini bisa dipastikan lahir dari akar kerendahan, sehingga butuh bukti untuk menunjukkan ketinggian posisinya. Laku-laku semacam ini bisa dipastikan lahir dari akar kerendahan, sehingga butuh bukti untuk menunjukkan ketinggian posisinya

Di sisi lain, karena hidup dalam peradaban yang dipanglimai nafsu, cara pandang manusia dalam melihat kenyataan pun acap kali ikut terbalik-balik.

“Kadang kyai kampung yang hanya mengajar mengaji anak-anak dianggap rendah;  sementara yang kaya, berkuasa, populer, dimuliakan karena dianggap sebagai lambang posisi yang tinggi. Tentu dalam kasus semacam ini kita harus bertanya: yang melihat dan menentukan ukuran rendah dan mulia itu siapa? Jangan-jangan api di dalam dirilah yang menjadi pengukurnya. Kita melihat dengan orientasi yang sama dengan unsur utama pembentuk kenyataan yang kita lihat, yakni nafsu,” satirenya.

“Ini kan aneh. Manusia yang secara hakiki diciptakan sebagai sebaik-baik ciptaan, dalam ketinggian derajat, justru mengagung-agungkan segala sesuatu yang berasal dari kerendahan tempatnya diturunkan,” sindir Anis.

Menurut Anis, sebagai mahluk yang asalnya tinggi; maka manusia seharusnya tidak mengandalkan api, tapi meniru air. Air sumber asalnya selalu ada di ketinggian yakni di pegunungan. Dan air selalu turun ke tempat yang paling rendah yang bisa ditemukan..

Air memberi kita pelajaran bahwa sesuatu yang asalnya tinggi, justru akan selalu memosisikan diri di tempat rendah. Selalu berupaya merendah.

“Bahkan dalam salah satu ayat Al Qur’an, disebut bahwa Arsy atau ‘singgasana’ Allah pun diletakkan di atas air. Tentu saja ini lambang sekaligus pelajaran yang menarik bagi manusia; karena Allah sendiri yang tak ada yang lebih tinggi dan mulia dari Dia, justru menggambarkan Arsy-Nya berada di atas air; unsur alam yang selalu memosikan dirinya untuk mencari tempat paling rendah,” terangnya.

Tentu saja unsur api bukanlah sesuatu yang sia-sia dan tak berguna. Seharusnya api menjadi alat yang dikelola dan dikendalikan manusia. Salah satunya yang paling efektif adalah lewat berpuasa.

“Dalam salah satu hadits, disebutkan adanya tahap itsqun minan nar (merdeka dari api) saat kita berpuasa di bulan Ramadan. Meski hadits ini dianggap dhoif, namun karena hakikiat puasa adalah pengendalian nafsu, maka tahap merdeka dari api adalah tahap yang seharusnya dicapai oleh mereka yang berpuasa,” jelas Anis.

Dengan mengendalikan nafsu maka manusia tidak akan menyebabkan kerusakan di muka bumi, apalagi bagi dirinya sendiri.

“Namun kalau nafsu terus mendominasi, maka kita akan selalu gagal sebagai manusia. Kita hanya akan menebar api pada diri sendiri dan keluarga, dan pada gilirannya pada masyarakat yang lebih luas bila memaksakan diri menjadi pemimpin,” imbuhnya.

Pembahasan tema yang dipilih Suluk Maleman kali ini memang terasa pas dengan suasana Ramadan. Banyak tertarik mengikutinya secara langsung mau pun lewat siaran langsung di kanal Suluk Maleman Offcial Channel Youtube. Apalagi malam itu Sampak GusUran sekaligus meluncurkan lagu terbarunya berjudul Suluk Duka Cinta. (Lingkar Network | Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Kajian AgamaNgaji NgAllah Suluk Malemanpati

Related Posts

Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.
Kajian Agama

Suluk Maleman Edisi 168: Merekonstruksi Empat Saka Guru Bangsa

22 Desember 2025
Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 167 menekankan manusia bukan sumber kebenaran.
Artikel

Suluk Maleman Edisi 167: Manusia Bukan Sumber Kebenaran

17 November 2025
Suluk Maleman edisi 166 mengangkat tema "Sejarah Dimulai Dari Rumah" yang menyoroti peran ibu sebagai pusat peradaban dan pentingnya pendidikan dalam keluarga menghadapi tantangan kapitalisme.
Kajian Agama

Suluk Maleman Edisi 166: Ibu Adalah Punjer Peradaban

20 Oktober 2025
Dalam Suluk Maleman edisi 165, Anis Ba'asyin ingatkan penguasa bahwa rakyat bukan musuh, melainkan raksasa tidur yang bisa meledak jika ketidakadilan terus terjadi.
Artikel

Suluk Maleman Edisi 165: Rakyat bukan Musuh

22 September 2025
Load More
Next Post
Menag Yaqut saat mengetok palu saat konferensi pers penetapan 1 syawal 1444 hijriah. (YouTube Kemenag/Harianmuria.com)

Kemenag Tetapkan Idul Fitri 1444 H Jatuh pada 22 April 2023

Berita Utama

BPBD Jepara sigap menangani berbagai bencana Desember 2025, mulai pohon tumbang, rumah rusak, hingga evakuasi warga dan hewan berbahaya.
Jepara

BPBD Jepara Gerak Cepat Tangani Serangkaian Kejadian Bencana Selama Desember 2025

15 Desember 2025
BPBD Jepara menyalurkan bantuan logistik kepada warga Desa Tunahan, Kecamatan Keling, yang terdampak angin kencang.
Jepara

BPBD Jepara Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga Terdampak Angin Kencang di Tunahan

10 Desember 2025
BPBD Jepara menerima bantuan truk tangki 4.000 liter dari pemerintah pusat untuk memperkuat armada penanggulangan bencana, khususnya distribusi air bersih di wilayah rawan kekeringan.
Jepara

BPBD Jepara Terima Truk Tangki 4.000 Liter, Perkuat Armada Penanggulangan Bencana

10 Desember 2025
BPBD Jepara mengirim satu personel untuk membantu penanganan banjir di Sumatra Barat sebagai bentuk dukungan Pemprov Jateng terhadap percepatan pemulihan pascabencana.
Jepara

BPBD Jepara Tugaskan Satu Personel Bantu Penanganan Banjir di Sumatra Barat

9 Desember 2025

Berita Trending

  • Belasan tahun rusak tanpa perbaikan, warga Desa Nglebur, Jiken, Blora swadaya memperbaiki jalan sepanjang 60 meter dengan dana patungan dan gotong royong.

    Belasan Tahun Rusak, Warga Nglebur Blora Swadaya Perbaiki Jalan 60 Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RSUD Kudus Periksa 10 Pegawai Buntut Video Viral Asusila, 2 Orang Dibebastugaskan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wartawan Dilarang Liput Kebakaran Sumur Minyak di Gandu Blora, Warga Blokade Akses Masuk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Salah, Begini Cara Bedakan Kartu Keluarga Asli dan Salinan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Molor Seminggu, Pencairan Gaji ASN Blora Rp55,5 Miliar Mulai Diproses

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Harianmuria.com

Adalah media online yang menayangkan berita terbaru di Jawa Tengah. Berita yang kami sajikan padat, terpercaya, dan mencakup informasi terkini di wilayah Karesidenan Pati.

© 2024 Harianmuria.com - PT. MEDIATAMA ANUGRAH PERS

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV

© 2024 Harianmuria.com - PT. MEDIATAMA ANUGRAH PERS