JEPARA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara memastikan penanganan bencana mengutamakan perlindungan dan keselamatan masyarakat.
Dalam rapat koordinasi Forkopimda pada Senin, 12 Januari 2026 disebutkan bahwa delapan kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi, masing-masing Kecamatan Keling, Donorojo, Kalinyamatan, Nalumsari, Mayong, Bangsri, Tahunan, dan Kembang.
Dari delapan daerah tersebut, Desa Tempur, Kecamatan Keling menjadi wilayah dengan dampak paling berat akibat rusaknya bdan jalan serta perubahan alur Sungai Gelis.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa perlindungan dan keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap langkah penanganan.
Bupati meminta seluruh perangkat daerah bekerja secara terpadu dan tidak bergerak sendiri-sendiri dalam penanganan bencana.
“Kita harus satu komando. Koordinasi yang kuat penting agar risiko terhadap warga bisa diminimalkan,” tegasnya.
Pemkab Jepara menargetkan pembersihan material longsor yang menutup akses jalan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal tiga hari.
Selain itu, pemerintah memastikan ketersediaan logistik berupa kebutuhan pokok bagi warga terdampak untuk 10 hari ke depan.
“Pembukaan akses dan pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi fokus utama,” ucapnya.
Untuk penanganan di kawasan Sungai Gelis saat ini masih menghadapi kendala teknis. Derasnya arus sungai membuat alat berat belum bisa dioperasikan, sementara pelebaran jalan belum memungkinkan karena berisiko memicu longsor susulan.
Sebagai solusi sementara, Bupati Jepara memilih opsi pengembalian alur sungai yang sempat hilang.
“Secara teknis rencana penanganan meliputi pengalihan aliran sungai, pembangunan badan jalan baru dengan lebar sekitar 4,5 meter, serta pengerahan tiga unit ekskavator. Pohon-pohon yang menghambat aliran sungai akan dibersihkan, dan alur sungai yang terlalu dekat dengan badan jalan akan dipindahkan sepenuhnya,” jelasnya.
Sejumlah infrastruktur lain juga turut terdampak, di Kecamatan Kalinyamatan, tanggul Kali Bakalan ditangani secara darurat menggunakan karung pasir, sementara genangan air di wilayah Batukali tercatat merendam sekitar 100 hektare sawah.
“Penanganan juga dilakukan di Kali Tempur, Kecamatan Donorojo, melalui rencana normalisasi, perubahan titik pertemuan Kali Tempur dan Kali Pasokan, serta pembuatan sudetan di Kali Pasokan,” terangnya.
Kemudian dii Kecamatan Mayong, tanggul Kali Sengon dan Kali Kuanyar dilaporkan jebol sepanjang sekitar delapan meter dengan tinggi tiga meter, mengakibatkan sekitar 50 hektare lahan sawah terdampak.
Sementara itu, jembatan penghubung Ngetuk-Karangnongko di Kecamatan Nalumsari dilaporkan hilang dengan panjang sekitar 30 meter.
“Normalisasi Kali Mayong baru akan dilakukan setelah kondisi air surut dan tanah dinyatakan aman. Untuk jembatan penghubung Ngetuk-Karangnongko belum bisa dilakukan pengukuran karena kondisi lokasi masih berbahaya,” jelasnya.
Dari sisi pendanaan, Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna menyatakan dukungan melalui alokasi Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp5 miliar. Dana tersebut akan difokuskan pada kebutuhan paling mendesak di lapangan.
“Penggunaan BTT harus benar-benar diprioritaskan untuk kegiatan yang paling mendesak,” ujarnya.
Pemerintah daerah akan terus memperbarui informasi kepada masyarakat terkait perkembangan dan tahapan penanganan bencana.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa











