Oleh : Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom
Harianmuria.com – Di era digital saat ini, arus informasi mengalir begitu deras tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Setiap individu memiliki kebebasan untuk memproduksi sekaligus menyebarkan pesan, baik melalui media sosial, aplikasi percakapan, maupun platform daring lainnya. Namun, kebebasan ini sering kali disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, hingga manipulasi informasi yang menyesatkan.
Fenomena hoaks bukanlah sesuatu yang baru, namun dalam era digital penyebarannya menjadi jauh lebih masif. Cukup dengan satu klik, sebuah informasi palsu bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Hal ini diperparah oleh rendahnya tingkat literasi digital masyarakat. Banyak orang masih lebih cepat menekan tombol “share” ketimbang menimbang kebenaran sebuah informasi.
Budaya kritis dan kesadaran etis dalam berkomunikasi seringkali terabaikan. Komunikasi sejatinya bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan juga membangun pemahaman yang sehat, saling menghormati, dan menciptakan harmoni sosial.
Komunikasi yang etis mampu menjadi jembatan untuk mempererat kohesi sosial, sementara komunikasi yang tidak etis justru dapat menjadi pemicu perpecahan, konflik, bahkan kekerasan. Inilah mengapa literasi digital dan etika komunikasi menjadi dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Literasi digital tidak boleh dipahami hanya sebatas kemampuan mengakses atau menggunakan teknologi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup keterampilan memverifikasi informasi, berpikir kritis, serta menanamkan tanggung jawab moral ketika berinteraksi di ruang publik digital. Dalam konteks pendidikan, mahasiswa maupun generasi muda perlu dilatih agar mereka tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan juga produsen pesan yang beretika.
Etika komunikasi di era manipulasi digital menjadi benteng terakhir untuk melawan arus informasi menyesatkan. Dalam konteks sosial, hoaks sering kali tidak hanya merugikan individu, tetapi juga masyarakat luas. Kita bisa melihat bagaimana hoaks terkait isu kesehatan, politik, maupun agama dapat memicu keresahan sosial bahkan memecah belah bangsa. Di sinilah peran penting literasi digital yang membekali masyarakat dengan kemampuan untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang manipulatif.
Kampus dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran etika komunikasi ini. Mahasiswa sebagai generasi muda harus dilatih agar tidak hanya pandai berbicara dan menulis, tetapi juga mampu memahami dampak sosial dari setiap pesan yang mereka sebarkan. Mereka harus menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar alat untuk memengaruhi, tetapi juga sarana untuk membangun keadaban publik.
Selain itu, media massa dan platform digital juga memiliki peran besar. Media seharusnya tidak hanya mengejar sensasi atau klik semata, tetapi juga turut mendidik masyarakat dengan menyajikan informasi yang berimbang dan terverifikasi. Platform digital pun perlu memperkuat algoritma agar tidak mudah dimanfaatkan untuk menyebarkan manipulasi informasi. Namun, semua ini kembali pada kesadaran individu. Literasi digital dan etika komunikasi tidak akan berjalan jika masyarakat tidak menumbuhkan budaya kritis dalam dirinya. Oleh karena itu, keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial juga harus ikut serta dalam membangun budaya literasi ini.
Jika kita tidak bergerak dari hoaks menuju literasi, maka ruang digital akan terus dipenuhi oleh kebisingan informasi yang menyesatkan. Namun, jika etika komunikasi menjadi fondasi, maka masyarakat kita akan lebih siap menghadapi era manipulasi digital dengan bijak, kritis, dan berintegritas. Harapan terbesar adalah agar komunikasi digital tidak hanya menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi juga menjadi media pembelajaran, kolaborasi, dan penguatan demokrasi.
Penutupnya, tantangan terbesar kita di era ini bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia menggunakannya. Etika komunikasi adalah kompas moral, sementara literasi digital adalah bekal pengetahuan. Jika keduanya berjalan seiring, maka transformasi dari hoaks menuju literasi bukanlah mimpi, melainkan keniscayaan.
Tentang Penulis:
Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom dalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi.









