BLORA, Harianmuria.com – PT Gendhis Multi Manis (GMM) Blora resmi menghentikan musim giling tebu tahun 2025 lebih cepat dari jadwal semula, yakni pada Kamis, 25 September 2025. Keputusan mendadak ini dipicu oleh kerusakan parah pada dua unit boiler pabrik yang vital, membuat operasional tidak dapat dilanjutkan.
Rugi Rp134 Miliar, Serapan Tebu Turun
Plt. Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2025, perusahaan telah mencatat kerugian mencapai Rp134 miliar, meningkat signifikan dari kerugian Rp63 miliar pada tahun sebelumnya.
Kerusakan boiler memaksa pabrik berhenti giling di hari ke-112, padahal target musim giling adalah 150 hari. Akibatnya, serapan tebu PT GMM hanya mencapai 54,6 persen dari target, dengan realisasi total tebu tergiling sebanyak 218.771 ton dari target 400.000 ton.
Baca juga: Boiler Rusak, Pabrik Gula PT GMM Blora Tutup Giling Lebih Awal
Produksi Gula Kristal Putih Terdampak
Produksi Gula Kristal Putih (GKP) pun ikut terdampak, hanya mencapai 11.608 ton hingga penghentian operasi. Sri Emilia menyampaikan permohonan maaf kepada para mitra petani yang hasil panennya belum terserap maksimal.
“Kami harus mengambil keputusan segera dengan kondisi yang sangat kritis ini, karena apabila dipaksakan dapat menimbulkan kerusakan yang lebih parah lagi,” ujarnya.
Beban Utang Capai Rp800 Miliar
Selain kerugian operasional, PT GMM masih menanggung utang besar kepada BRI sekitar Rp800 miliar. Sri Emilia pesimis utang ini baru bisa terselesaikan dalam 15 tahun ke depan, dan kemungkinan belum menutupi pokok utang perusahaan.
Baca juga: Rugikan Petani Tebu, APTRI Blora Protes Keputusan PT GMM Tutup Musim Giling
Reaksi Keras dari Petani dan DPRD Blora
Keputusan tutup giling dini ini mendapat kecaman dari para petani tebu. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto, mengungkapkan kekecewaan mendalam karena lahan tebu seluas 1.500 hektare belum dipanen.
“Satu tahun ditanam tapi tak bisa panen. Tolong dampingi sampai ke DPR RI hingga Presiden,” pinta Sunoto saat audiensi bersama Komisi B DPRD Blora, GMM Bulog, dan Dinas terkait.
Wakil Ketua DPRD Blora, Lanova Chandra Tirtaka (Gerindra), juga mempertanyakan alasan kerusakan boiler yang dianggap seharusnya bisa diantisipasi sebelum musim giling dimulai.
“Lucu kalau laporannya boiler rusak. Alasan rusak aneh,” tegas Lanova.
Jurnalis: Subekan
Editor: Basuki










