SEMARANG, Harianmuria.com– Cuaca ekstrim di Jawa Tengah. Hal itu merupakan salah satu dampak dari puncak musim penghujan. Salah satu yang paling merasakan perubahannya yakni pembuat hio swa di Kecamatan Mranggen. Pembuat Hio Swa itu bernama Muhammad Khundori.
Saat ditemui pada Minggu (23/1), Khundori tengah mengerjakan Hio Swa di teras rumah. Padahal biasanya dia memproduksi di halaman belakang. “Halaman belakang saya banjir. Jadinya saya pindah di sini,” ucap Khundori.
Dia mengungkapkan, hujan membuat halaman belakang banjir, serta cuaca selalu mendung, sehingga dia tidak bisa menjemur. Padahal, Hio Swa butuh matahari agar mengeras dan siap pakai. Kalau tidak dijemur, Hio Swa akan lembab dan tidak bisa disulut dengan api.
Meski begitu, biasanya jika terjadi hujan Khundori menggantinya dengan memanaskan Hio Swa di sebuah oven. “Tapi sayangnya oven saya juga kebetulan kena banjir,” imbuhnya.
Oven yang digunakan Khundori sebetulnya bukan oven listrik. Bentuknya menyerupai rumah-rumahan sederhana yang ditutup asbes. Bahan bakarnya sekam yang akan memberi kehangatan agar Hio Swa yang basah cepat mengering.
Selain siasat tersebut, biasanya untuk imlek, Khundhori akan gencar-gencarnya produksi sebulan sebelumnya. Atau tepatnya sekitar bulan Desember. “Kalau dekat Imlek gini sebetulnya sudah agak longgar karena dibuat bulan lalu,” bebernya.
Akhirnya sebagai jalan keluar, Khundori sampai mengambil barang di tempat produksi lain untuk menutup jumlah pesanannya. Namun duka Khundori sedikit terobati, sebab pembuatan di tahun ini meningkat daripada tahun lalu.
Khundori menilai, jika peningkatan ini karena pandemi sudah mulai mereda dan masyarakat sudah memberanikan diri beribadah di klenteng. “Kalau tahun lalu hanya menjual 10 ribu batang, tahun ini membuat 15 ribu batang,” ujarnya.
Dalam memproduksi Hio Swa sebetulnya tidak hanya dilakukan Khundori saat imlek saja. Namun di luar itu dia tetap membuat untuk ibadah rutin umat konghucu. Pelanggan Khundori banyak dari Semarang. Dia lebih banyak membuat untuk toko-toko, namun tak jarang juga membuat untuk sebuah keluarga atau kelenteng.
Biasanya, pelanggan Khundhori membeli sebanyak 50 kg. Isinya kira-kira 500 batang. Larisnya pelanggan itu tentu dibarengi juga dengan kualitas produk yang selalu dia jaga. (Lingkar Network I Harianmuria)










