BLORA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) terus mendorong kemandirian pertanian dengan menggalakkan pelatihan pembuatan pupuk kandang atau pupuk berbahan organik.
Program ini dijalankan DP4 karena mayoritas petani di Blora selain mengolah lahan pertanian juga memiliki ternak yang berpotensi menghasilkan pupuk alami.
2.000 Petani Manfaatkan Pupuk Organik
Kabid Sarana dan Prasarana (Sarpras) DP4 Blora, Sukandar, menjelaskan bahwa program kemandirian pertanian melalui pelatihan pembuatan pupuk organik serta bantuan obat prebiotik untuk fermentasi sudah berjalan sejak tahun 2021.
“Sudah lebih dari tiga tahun berjalan, dan kini lebih dari 2.000 petani di Blora aktif memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk siap pakai. Kita berharap jumlah ini terus bertambah,” ujarnya, Kamis, 2 Oktober 2025.
Sistem Fermentasi Ramah Lingkungan
Pelatihan pupuk kandang organik ini mengoptimalkan potensi kotoran ternak yang sebelumnya jarang dimanfaatkan. Dengan metode kotak fermentasi, pupuk bisa diproduksi secara berkelanjutan.
“Sistemnya selang-seling. Begitu satu kotak penuh diambil, langsung diisi kembali,” jelas Sukandar.
Ia mebungkapkan, jika seorang petani memelihara dua ekor sapi dewasa, dapat menghasilkan sekitar 10 kilogram kotoran ternak yang diproses menjadi pupuk organik setiap harinya. Penyuluh pertanian secara rutin mendampingi kelompok tani, termasuk penyediaan prebiotik
Kurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia
Menurut Sukandar, pupuk organik hasil produksi petani Blora lebih ramah terhadap tanah, sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Sejauh ini memang masih untuk penggunaan pribadi, tapi kita dorong ke depan agar bisa diperjualbelikan. Pemkab juga siap membantu perizinannya,” tegasnya.
Jaga Lingkungan Lebih Bersih
Selain mendukung ketahanan pangan, pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik juga berdampak positif pada lingkungan. Kotoran ternak yang dikelola dengan baik tidak lagi mengganggu warga sekitar, melainkan justru menghasilkan nilai tambah.
“Lingkungan lebih bersih, tanaman lebih sehat, dan petani semakin mandiri,” tutup Sukandar.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










