JEPARA, Harianmuria.com – Kebijakan pembukaan gratis Museum Kartini hingga 1 Januari 2026 tidak hanya menjadi strategi promosi wisata, tetapi juga menandai perubahan penting dalam arah pembangunan museum daerah di Jepara.
Museum yang berada di kompleks Pendopo Kabupaten Jepara ini kini menyuguhkan wajah baru melalui lima zonasi utama: Zona Geografis Jepara, Zona Keluarga Kartini, Zona Terbit Terang Pemikiran Kartini, Zona Kartini Berkesenian, serta Zona Interaksi Pengunjung
Penataan ulang ini menjadi fondasi bagi museum modern yang berorientasi pada edukasi dan pengalaman pengunjung.
Pengembangan Museum dengan Kolaborasi
Bupati Jepara, Witiarso Utomo (Mas Wiwit), menegaskan bahwa, pengembangan lanjutan museum tidak akan bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan pada kolaborasi masyarakat, komunitas, dan pelaku industri lokal.
“Jepara memiliki kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi yang cukup untuk menjadikan Museum Kartini sebagai ikon pembangunan berbasis gotong royong. Kita harus bangga merawat peninggalan Kartini dengan kekuatan masyarakat Jepara sendiri,” ujarnya.
Membangun Rasa Kepemilikan Publik
Menurut Mas Wiwit, pendekatan kolaboratif ini dilakukan untuk memperkuat rasa kepemilikan publik terhadap museum. Ia berharap masyarakat mulai menjadikan museum sebagai ruang publik yang aktif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan konsep pembangunan partisipatif, Museum Kartini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer sejarah, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat edukasi, ruang aktivitas budaya, dan ruang kreatif bagi generasi muda
“Konsep pembangunan yang kolaboratif ini akan menghasilkan Museum Kartini yang hidup, dinamis, dan berkelanjutan,” kata Mas Wiwit.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










