SEMARANG, Harianmuria.com – Selama puluhan tahun, Bandarharjo, sebuah kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, dikenal dengan citra kelam sebagai ‘kampung gali’ – kawasan yang lekat dengan kriminalitas dan premanisme.
Namun, di balik stigma itu, kini perlahan muncul wajah baru Bandarharjo yang lebih religius dan damai. Warga dan tokoh masyarakat bersama-sama berupaya mengubah citra kampung menjadi ‘Kampung Santri’, simbol kebangkitan moral dan sosial masyarakatnya.
Jejak Kelam ‘Kampung Gali’ di Masa Lalu
Menurut Rifai Sutikno, tokoh masyarakat sekaligus saksi sejarah Bandarharjo, reputasi buruk itu memiliki akar panjang sejak tahun 1960-an.
“Dulu banyak pendatang bekerja di pelabuhan, sebagian hidup serabutan. Di sini juga ada Rumah Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) untuk menampung gelandangan, bahkan preman,” ujarnya.
Banyak pelaku kejahatan yang tertangkap polisi mengaku berasal dari Bandarharjo. Situasi ini diperparah dengan munculnya slogan menantang, ‘Jalma Mara Jalma Mati’ (Berani datang, berani mati), yang makin mengukuhkan citra keras kawasan tersebut.
Akumulasi perilaku kriminal membuat Bandarharjo dikenal sebagai kawasan hitam. “Pada 1983–1985 banyak warga jadi sasaran operasi Petrus (Penembak Misterius). Namun, dari situ juga banyak yang bertaubat,” kenang Sutikno.
Dari Stigma Gelap Menuju Jalan Terang
Citra negatif yang melekat berdampak besar bagi kehidupan sosial dan ekonomi warga. “Banyak yang ditolak kerja, bahkan urusan jodoh pun sulit hanya karena asal dari Bandarharjo,” katanya.
Keresahan itu mendorong tokoh agama dan masyarakat untuk bergerak. Muncullah slogan “Dari Kampung Gali Menuju Kampung Santri”, yang pertama kali digaungkan oleh Lurah Suparmin pada era 1970-an.
Makna “santri” dalam slogan ini bukan semata santri pesantren, melainkan orang yang hidup sesuai nilai-nilai agama dan moral.
“Mulai dibangun masjid, musala, TPQ, dan pengajian rutin. Sekarang setiap malam ada kegiatan mengaji di musala dan masjid,” ujar Sutikno.
Perubahan Nyata di Bandarharjo
Transformasi Bandarharjo tidak hanya terlihat dari perubahan perilaku sosial, tetapi juga pembangunan fisik yang lebih tertata. “Dulu jalan becek, gelap, sering banjir. Sekarang sudah terang dan rapi karena dibangun pemerintah,” ungkapnya.
Perubahan ini membuat pelaku kriminal menurun drastis. “Dulu kalau ada orang meninggal, malah dipakai judi dan mabuk. Sekarang diganti pengajian. Dari mabuk ke ngaji, itu perubahan besar,” tegas Sutikno.
Tantangan Baru dan Harapan ke Depan
Walaupun begitu, lanjut Sutikno, Kelurahan Bandarharjo masih memiliki beberapa PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan.
“Saat ini kan mulai lagi marak tawuran dan kenakalan remaja. Nah, ini tugas bersama untuk menyelesaikan, tentunya ini harus saling gotong royong,” katanya.
Dalam semangat Hari Santri 2025, Sutikno mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat perubahan itu.
“Melalui semangat Hari Santri, mari kita gaungkan lagi ‘Dari Kampung Gali Menuju Kampung Santri’. Semoga Bandarharjo menjadi kampung yang aman, religius, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkar Network
Editor: Basuki










