REMBANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang meresmikan Pencanangan Musim Tanam I Tahun 2025/2026 sekaligus meluncurkan Gerakan Listrik Masuk Sawah (Gelisah) di Desa Waru, Kecamatan Rembang, Senin, 17 November 2025.
Acara ini dihadiri oleh Bupati Rembang Harno, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan), jajaran Pemerintah Kecamatan Rembang, pemerintah desa, serta pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Solusi Listrik untuk Pertanian
Program Gelisah diharapkan menjadi solusi kebutuhan energi listrik bagi para petani, khususnya untuk operasional sumur dan pompa yang selama ini bergantung pada mesin diesel berbahan bakar solar.
Bupati Harno menyampaikan apresiasi kepada PLN karena telah membantu memenuhi kebutuhan listrik pertanian di sejumlah desa. Menurutnya, kehadiran listrik tidak hanya mengurangi ketergantungan pada mesin diesel, tetapi juga meningkatkan keamanan petani.
“Petani sangat membutuhkan listrik masuk sawah. Kadang ada yang mendirikan instalasi darurat yang membahayakan, apalagi malam hari. Dengan adanya listrik ini, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN. Harapannya desa lain juga bisa dipenuhi,” ujar Harno.
33 Titik Terpasang, 17 Menyusul
Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan Haswanto, melaporkan bahwa pemasangan jaringan listrik dilakukan secara bertahap. “Tahap pertama sudah terpasang 33 titik, dan akan menyusul 17 titik pada tahap kedua,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penggunaan listrik mampu menghemat biaya operasional petani secara signifikan.
“Efisiensi biaya mencapai 50–70 persen dibandingkan penggunaan solar atau pertalite. Ini sangat membantu daya saing petani.”
Agus juga menyebut sejumlah desa yang sudah tercatat dalam Program Gelisah, yakni Kasreman, Waru, dan Tegaldowo. Sementara desa lain masih dalam proses pengajuan ke PLN ULP Rembang.
Terkait mekanisme pemasangan listrik pertanian, Agus menjelaskan bahwa pengajuan dilakukan secara kolektif dan diketahui kepala desa. Setelah itu, dinas memberikan rekomendasi agar ULP Rembang bisa mempercepat tindak lanjut.
Tarif Khusus untuk Pertanian
Manajer PLN ULP Rembang, Jati Kuncahyo, memastikan bahwa sektor pertanian mendapatkan tarif khusus.
“Tarif pertanian menggunakan tarif industri kecil, yakni Rp1.050 per kWh untuk daya 1.300 VA, dan dilayani secara prabayar,” terangnya.
Menurut Jati, pemasangan baru mengikuti aturan umum, tetapi untuk perluasan jaringan seperti tiang, jaringan, dan trafo, seluruh biaya ditanggung PLN.
Selain itu, PLN mendorong petani menata ulang instalasi lama agar tidak menimbulkan risiko. “Jika warga membutuhkan sosialisasi dari PLN, kami siap,” katanya.
Dengan peresmian Gelisah ini, Pemkab Rembang dan PLN berharap pemanfaatan listrik di sektor pertanian semakin meluas dan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional petani di Kabupaten Rembang.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










