JAKARTA, Harianmuria.com – Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan abolisi kepada Tom Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk pengamat politik nasional.
Khalid Zabidi, Direktur Informasi dan Komunikasi di GREAT Institute, menyebut langkah Prabowo sebagai sinyal kuat menuju rekonsiliasi politik nasional. Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya menyelesaikan masalah hukum, tetapi juga meredakan ketegangan politik yang selama ini terjadi.
“Presiden menunjukkan sikap kenegarawanan dan keberpihakan terhadap persatuan nasional. Abolisi dan amnesti ini adalah langkah damai yang membawa kesejukan di tengah dinamika politik,” ujar Khalid Zabidi, Kamis, 31 Juli 2025.
Baca juga: Prabowo Beri Abolisi ke Tom Lembong dan Amnesti untuk Hasto Kristiyanto, DPR Setuju
Apresiasi untuk Sufmi Dasco Ahmad
Khalid juga mengapresiasi peran Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, yang disebut sebagai aktor penting di balik disetujuinya usulan Presiden Prabowo tersebut oleh parlemen.
“Dasco benar-benar bekerja demi kepentingan demokrasi dan penegakan hukum. Langkah ini memperlihatkan adanya kerja sama politik yang produktif antara eksekutif dan legislatif,” tambahnya.
Latar Belakang Kasus Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto
Diketahui, Tom Lembong sebelumnya divonis dalam kasus korupsi terkait impor gula, sementara Hasto Kristiyanto terlibat dalam kasus suap. Melalui kebijakan abolisi dan amnesti dari Presiden Prabowo, keduanya kini resmi terbebas dari proses hukum.
Respons Akademisi: Peluang Perkuat Komunikasi Politik
Sementara itu, Anto Sudarto, pakar komunikasi politik dari Universitas Pancasila, juga menilai keputusan Prabowo ini sebagai langkah strategis untuk membangun komunikasi politik yang lebih luas.
“Amnesti dan abolisi ini membuka peluang dialog yang lebih terbuka antara Presiden Prabowo dan berbagai elemen masyarakat, termasuk Megawati dan kelompok sipil lainnya,” ujar Anto yang juga menjabat sebagai Ketua Program Pascasarjana Komunikasi Krisis.
Menuju Persatuan Nasional
Khalid menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa fokus Presiden saat ini adalah pembangunan dan persatuan nasional. Ia menyebut keputusan ini sebagai ‘angin segar’ yang diharapkan bisa mencairkan ketegangan dan membuka ruang kolaborasi lintas kubu.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










