PATI, Harianmuria.com – Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-164 yang digelar pada Sabtu malam, 16 Agustus 2025, di Rumah Adab Indonesia Mulia, Pati, menjadi momen spesial. Acara yang bertepatan dengan malam tirakatan kemerdekaan ini mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan RI.
Kemerdekaan dan Sangkan-Paran Bangsa
Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menegaskan bahwa setelah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu memaknai ulang pemahaman tentang arti kemerdekaan.
“Seperti kita tahu, kemerdekaan diproklamasikan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Saat itu belum ada negara, baru bangsa. Negara Republik Indonesia baru dibentuk sehari setelah proklamasi, pada 18 Agustus 1945,” jelas Anis dalam kajian bertema MataAirMata Merdeka.
Menurutnya, fakta sejarah tersebut menegaskan bahwa bangsa adalah pemilik saham mutlak pendirian negara, sementara negara kemudian mendelegasikan sebagian fungsi pelaksanaannya ke pemerintah dengan segala turunannya.
Karena itu, lanjut Anis, siapa pun yang diberi amanah untuk mengelola negara dan pemerintahan tidak boleh melupakan sangkan-parannya, asal dan tujuannya. Asalnya adalah bangsa, seluruh rakyat Indonesia.
“Bila asal ini dilupakan, maka negara dan pemerintah akan berubah menjadi entitas tersendiri yang terputus dari entitas bangsa. Negara dan pemerintah tak lagi mengabdi pada rakyat, tapi pada kepentingan mereka sendiri,” jelas Anis.
Pemimpin Harus Hidup Bersama Rakyat
Anis mengingatkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang hidup di tengah rakyat, bukan mengatasnamakan rakyat tapi hidup di menara gading. Ia mencontohkan teladan Rasulullah yang memilih hidup miskin bersama umat yang dipimpinnya, sehingga kebijakannya tidak mungkin menyimpang dan menyengsarakan rakyat.
“Kalau contoh modern bisa kita lihat Swedia, di mana pejabat tidak diberi fasilitas khusus. Mereka hidup bersama rakyat sehingga kebijakannya tidak menyusahkan rakyat,” tambahnya.
Sementara kesadaran tentang paran, tentang tujuan sebenarnya juga sudah jelas. “Mulai dari mencerdaskan kehidupan bangsa sampai dengan menyejahterakan rakyat, secara tegas dan jelas telah diatur dalam konstitusi asli kita, yakni Undang-undang Dasar 1945,” tutur Anis.
Fenomena Kebangsaan Menjelang HUT ke-80 RI
Anis juga menyoroti fenomena unik menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI, mulai dari maraknya pengibaran bendera bajak laut One Piece hingga aksi demonstrasi besar di Pati pada 13 Agustus 2025.
Menurutnya, generasi muda kini menemukan kesadaran nasional baru berbasis keadilan dan kesetaraan, meskipun sumber inspirasinya datang dari budaya populer seperti anime.
Sementara itu, aksi unjuk rasa di Pati menjadi bukti bahwa rakyat mulai siuman akan kedudukannya sebagai pemilik saham mutlak negara ini. Mereka tak lagi mau hanya sekadar menjadi obyek bagi kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Gejala ini muncul karena rakyat merasakan adanya reduksi pemahaman kebangsaan dari para pemangku negara dan pemerintahan. Munculnya beragam pajak, pemblokiran rekening sampai kenyataan sempitnya lapangan kerja; membuat mereka sadar ada yang salah di negeri ini.
Ancaman Negara yang Lupa Sangkan-Paran
Anis mengingatkan bahwa catatan sejarah membuktikan, betapa pun besarnya sebuah kerajaan atau negara, keruntuhannya selalu dimulai saat muncul beragam pajak yang dipungut dari rakyat.
“Jangan lupa, negara dan pemerintahan yang semakin menjauh dari sangkan-parannya, adalah negara yang rapuh dan gampang runtuh atau diruntuhkan.” tutup Anis.
Acara Suluk Maleman edisi ke-164 ditutup dengan diskusi khidmat dan iringan musik dari Sampai GusUran yang menghangatkan suasana hingga larut malam.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki









