BLORA, Harianmuria.com – Kebakaran hebat yang melanda sumur minyak rakyat ilegal di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora sejak Minggu siang, 17 Agustus 2025, hingga kini belum berhasil dipadamkan. Pertamina EP Cepu Field Zona 11 mengungkapkan sejumlah kendala teknis yang memperlambat proses pemadaman.
Field Manager Pertamina EP Cepu, Dody Tetra Admadi, menjelaskan bahwa hingga saat ini kobaran api masih terus menyala karena belum diketahui secara pasti karakteristik sumur minyak yang terbakar.
“Kendalanya, karakter sumurnya belum diketahui. Ini hanya berupa lobang tanpa kepala sumur. Jadi penanganannya belum bisa dipastikan seperti apa,” ungkap Dody saat ditemui, Selasa, 19 Agustus 2025.
Pemadaman Terkendala Identifikasi Sumur
Dody mengatakan pihaknya tengah melakukan mapping (pemetaan) untuk mengetahui struktur dan kondisi sumur minyak ilegal tersebut. Proses ini diperlukan untuk menentukan metode penanganan yang paling efektif.
“Kita rencanakan mapping dulu. Setelah itu baru bisa ditentukan tindakan selanjutnya. Untuk waktunya belum bisa dipastikan,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk menentukan langkah strategis dalam memadamkan api.
Rencana ‘Capping’ Jadi Alternatif
Salah satu alternatif penanganan yang sedang dipertimbangkan adalah penutupan lubang sumur dengan metode capping, yaitu menutup lubang dengan alat khusus untuk menghentikan suplai oksigen ke api.
“Saya menilai metode capping bisa menjadi solusi. Tapi tentu butuh alat dan pendekatan teknis khusus,” tambah Dody.
Terkait dengan kekhawatiran adanya gas beracun, Pertamina memastikan bahwa hasil pengukuran kadar udara di sekitar lokasi masih aman.
“Indikasi gas beracun nihil. Kadar udara sudah kami ukur, dan hasilnya masih aman,” tegasnya.
Baca juga: Pertamina: Sumur Minyak Ilegal di Blora Tak Standar, Api Sulit Dipadamkan
Sumur Tak Standar, Sulit Ditangani
Sementara itu, HSSE Pertamina EP Field Cepu Zona 11, Indra Firmannuddin, menyebut bahwa sumur minyak ilegal tersebut dibangun tanpa standar keamanan – tidak memiliki kepala sumur, sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
“Kita coba tutup lubang sumur dengan tanah untuk memutus suplai oksigen. Tujuannya agar segitiga api bisa terputus,” katanya.
Pantauan di lokasi, empat unit ekskavator dikerahkan untuk membuat tanggul di sekitar sumur minyak ilegal guna membantu proses pemadaman. Namun, hingga kini kobaran api masih terus membara.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










