BLORA, Harianmuria.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora memastikan akan segera memperbaiki ruang kelas SDN 1 Karangjati, Kecamatan Blora, yang mengalami kerusakan. Perbaikan dijadwalkan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2025.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Blora, Sandy Tresna Hadi, menyusul pemberitaan sebelumnya mengenai kondisi ruang kelas di lantai dua yang plafonnya runtuh dan harus disangga dengan bambu.
“Kami usahakan diperbaiki melalui APBD Perubahan tahun ini. Setelah kami cek, memang plafonnya perlu segera diperbaiki,” ujar Sandy, Kamis, 24 Juli 2025.
Kerusakan Tergolong Ringan
Sandy menyebut kerusakan plafon itu masih tergolong ringan secara teknis. Namun pihaknya tetap akan mengupayakan perbaikan lebih awal jika hal ini menjadi perhatian masyarakat.
“Itu sebenarnya belum prioritas karena kerusakan ringan. Tapi kalau menjadi sorotan dan mengganggu proses belajar, tentu akan kami percepat penanganannya,” tambahnya.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa struktur atap dan kayu penyangga masih dalam kondisi baik. Kerusakan hanya terjadi pada bagian plafon. Menurut estimasi, biaya perbaikan plafon per ruang kelas diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta.
SDN 1 Karangjati Pernah Diperbaiki
Sandy juga mengungkapkan bahwa sekolah tersebut juga pernah mendapat perbaikan pada tahun 2019, khususnya di bagian genteng dan atap. Namun, kerusakan plafon kembali terjadi, ditambah masalah kelelawar yang bersarang di ruang kelas lantai dua.
“Memang sejak dulu lantai dua kerap menjadi sarang kelelawar. Dulu sudah kami perbaiki, tapi kondisi kembali rusak,” jelasnya.
Baca juga: SDN 1 Karangjati Blora Rusak Parah, Plafon Ambrol dan Jadi Sarang Kelelawar

Plafon Rawan Runtuh
Sebelumnya, Kepala SDN 1 Karangjati, Eko Hadi, mengungkapkan kekhawatirannya terkait keselamatan siswa akibat plafon yang rawan runtuh. Karena keterbatasan ruang kelas, pihak sekolah masih terpaksa menggunakan ruang tersebut untuk kegiatan belajar-mengajar.
“Karena ruang kelas terbatas dan jumlah murid cukup banyak, kami tetap gunakan ruang di lantai dua meski kondisinya membahayakan,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










