KENDAL, Harianmuria.com – Banjir rob telah menjadi bencana tahunan yang kerap melanda warga pesisir pantai utara Kabupaten Kendal, khususnya di Kelurahan Karangsari dan Bandengan. Kondisi ini sudah berlangsung sejak 10 tahun terakhir dan kian parah.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengakui bahwa penanganan banjir rob ini sangat sulit, terutama karena keterbatasan anggaran daerah.
“Penanganan rob ini biayanya luar biasa, triliunan. Contohnya di Demak, dibutuhkan anggaran hingga Rp10,7 triliun, sementara APBD Kendal hanya Rp2,6 triliun,” jelas Bupati yang akrab disapa Mbak Tika, Selasa (27/5/2025).
Sebagai langkah strategis, Pemkab Kendal telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, guna mengusulkan pembangunan tanggul laut sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Kami sudah meminta bantuan Pak Gubernur untuk memperjuangkan Kendal agar mendapat alokasi proyek tanggul laut. Semoga bisa direalisasikan tahun depan,” harap Mbak Tika.
Di sisi lain, meskipun banjir rob sudah menjadi langganan, banyak warga yang enggan pindah. “Saya sudah sejak kecil hidup di sini, menggantungkan hidup dari hasil laut,” kata Warsiti, seorang warga Kelurahan Karangsari.
Menurut Warsiti, rob mulai muncul sekitar 10 tahun terakhir, tapi kondisi selama satu tahun ini yang paling parah. Terkadang, ia dan keluarganya terpaksa tidur di dalam kapal yang bersandar persis di depan rumahnya saat air pasang.
“Paling parah tahun ini, halaman rumah saya sampai tidak terlihat. Padahal sudah ditinggikan 1 meter. Ini kalau malam saya tidurnya di dalam kapal depan ini, karena sore air sudah sangat tinggi.” terangnya.
Warsiti berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata agar bencana rob makin parah tidak terus menjadi ancaman tahunan bagi warga pesisir.
(ARVIAN MAULANA – Harianmuria.com)










