BLORA, Harianmuria.com – Produksi air bersih PDAM Tirta Amerta Blora terganggu akibat keruhnya air Bengawan Solo yang menjadi sumber air baku utama. Kondisi ini dipicu oleh tingginya tingkat pencemaran limbah, terutama saat musim kemarau dengan curah hujan rendah.
“Air Bengawan Solo saat ini sangat keruh karena terpapar limbah. Hujan yang minim membuat konsentrasi polutan dalam air menjadi tinggi,” ujar Direktur PDAM Tirta Amerta Blora, Yan Riya Purnomo, Kamis, 25 September 2025.
Air Baku Pekat seperti Teh, Produksi Dibatasi
Menurut Yan Riya, warna air baku saat ini sangat pekat, bahkan menyerupai air teh, sehingga tidak memungkinkan untuk diproses secara maksimal.
“Kalau produksi dimaksimalkan, kualitas air akan kurang bagus. Maka kami kurangi produksi agar kualitas air lebih baik,” katanya.
Penggunaan Bahan Kimia Naik 4 Kali Lipat
Untuk menjernihkan air, PDAM harus menambah penggunaan bahan kimia seperti tawas dan kaporit. Penggunaan bahan tersebut saat ini meningkat empat kali lipat dibanding saat musim penghujan.
“Biasanya penggunaan kaporit 40 kilogram per hari, kini bisa mencapai 500 kg per hari jika tercemar, belum termasuk bahan penjernih lainnya,” ungkap Yan.
Selain itu, filter air PDAM juga diperkuat dengan penambahan ketebalan filtrasi. Namun, Yan mengakui hingga saat ini belum ada teknologi akurat untuk mengatasi pencemaran limbah di Bengawan Solo.
“Kami masih menggunakan pengolahan konvensional. Belum ada teknologi yang bisa mengurai warna, karena kami fokus pengolahan air bersih, bukan pengolahan limbah,” tegasnya.
PDAM Blora Minta Maaf ke Masyarakat
Atas penurunan kualitas dan kuantitas produksi yang menggunakan air Bengawan Solo, Yan menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan PDAM Tirta Amerta.
“Saya minta maaf kalau pelayanan belum maksimal. Kami berupaya sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










