REMBANG, Harianmuria.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah tak hanya meningkatkan asupan gizi anak sekolah, tapi juga menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat lokal. Salah satunya dirasakan para pembudi daya ikan lele di Kabupaten Rembang, yang kini terlibat langsung sebagai pemasok utama menu dapur MBG.
Agus Syaefi, pembudi daya lele asal Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, mengaku usahanya semakin berkembang sejak dipercaya menjadi pemasok tetap lele untuk dapur MBG. Ia menyuplai sekitar 4 kuintal lele setiap dua minggu untuk kebutuhan 3.800–4.000 porsi makanan bergizi.
“Dulu hanya pasar lokal, sekarang ada tambahan dari dapur MBG. Alhamdulillah bisa menyerap tenaga kerja lokal juga,” ujarnya, Senin, 18 Agustus 2025.
Agus bahkan menyebut potensi permintaan masih sangat besar jika seluruh dapur MBG di Kecamatan Lasem diaktifkan. Satu siklus panen miliknya bisa menghasilkan 40–50 ton lele, belum termasuk kemitraan dengan pembudi daya lain.
Bangun Kemitraan dan Dorong Usaha Rintisan
Program MBG juga memberi peluang bagi pengusaha kecil lainnya. Agus bermitra dengan petani ikan lain yang mengambil bibit dan pakan darinya, lalu hasil panennya dibeli kembali untuk suplai MBG. Total produksi dari kemitraan ini bisa mencapai 70 ton per siklus.
“Baru satu mitra aktif dari Lasem, kapasitasnya sekitar 3 ton. Tapi ini jadi peluang besar untuk memperluas jaringan,” jelasnya.
Selain berdampak ekonomi, program ini juga mendorong peningkatan standar budi daya. Penggunaan pakan pelet 100 persen dan higienitas kolam menjadi syarat mutlak.
“Pakai pelet saja sudah disurvei langsung. Kalau tidak memenuhi standar, tidak bisa ikut MBG,” tambah Agus.
Standar Ketat Kualitas dan Keamanan Pangan
Kepala Bidang Bina Usaha dan Peningkatan Daya Saing Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang, Nurida Adante Islami, menjelaskan bahwa seluruh pemasok lele untuk MBG harus mengikuti prinsip traceability atau pelacakan asal ikan. Penggunaan bahan tambahan seperti ikan rucang diperbolehkan, tapi tetap melalui kurasi ketat.
“Kami pastikan budi daya dilakukan dengan Good Aquaculture Practices. Jangan sampai ada penggunaan bahan berbahaya seperti ayam tiren,” tegas Nurida.
Efek Berganda bagi Masyarakat
Pembudi daya lain, Qusmin dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, mengaku ikut terbantu sejak bergabung sebagai pemasok MBG. Ia bahkan melibatkan warga sekitar dan mulai melatih ibu-ibu untuk mengolah filet lele, demi menambah penghasilan dari rumah.
“Anak-anak sekolah suka karena lelenya difilet dan digoreng renyah. Kami jadi makin semangat karena hasil panen kami bermanfaat langsung,” katanya.
Menu Lele akan Diperluas ke Sekolah Lain
Menu lele hasil budi daya lokal telah disajikan di sekolah-sekolah MBG di Lasem sejak Jumat lalu. Permintaan untuk menu ini kembali muncul untuk tanggal 21 Agustus 2025. Dinlutkan Rembang pun tengah mengkaji ekspansi ke empat SPPG lain, termasuk menjadwalkan kurasi pemasok baru dari Kecamatan Gunem dan Kragan.
“Program ini luar biasa. Harapannya, semakin banyak pembudi daya bisa ikut serta dan ekonomi warga makin terangkat,” pungkas Agus.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










