KENDAL, Harianmuria.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kendal menjadi sorotan publik. Sejumlah foto menu MBG yang diunggah di media sosial viral dengan beragam komentar warganet karena dinilai tidak layak dan jauh dari standar gizi.
Dalam unggahan akun Instagram liputan.kendal.terkini, tampak menu MBG hanya berisi nasi, potongan kecil ayam goreng, kering tempe, sayur, dan buah semangka. Lebih miris lagi, ada menu lain yang hanya menyajikan nasi, seiris tempe goreng, tiga potong semangka, sedikit sayur, dan agar-agar.
Unggahan serupa dari akun insta_kendal juga memperlihatkan menu MBG berupa mi goreng pengganti nasi, potongan wortel, sepotong kecil telur dadar, susu kotak, dan empat butir buah kelengkeng. Lokasi sekolah yang menerima menu tersebut belum diketahui secara pasti.
DPRD Kendal Segera Kroscek Menu MBG
Ketua Komisi D DPRD Kendal, Dedi Ashari Setyawan, mengaku belum menerima laporan resmi terkait menu MBG yang viral itu. Namun pihaknya berencana melakukan pengecekan langsung ke dapur MBG maupun sekolah-sekolah di Kendal.
“Hari ini kita juga belum jelas MBG ini ranahnya dinas apa. Tapi setahu saya di Kendal sudah ada Satgas pengawasan MBG. Ke depan, kita bersama Disdikbud akan kroscek ke dapur-dapur MBG dan sekolah agar kejadian yang ramai di medsos ini tidak terulang,” ujar Dedi di ruang kerjanya.
Politisi Partai Golkar itu menegaskan bahwa pemerintah pusat sudah memiliki petunjuk teknis (juknis) dan standar gizi dari Badan Gizi Nasional terkait menu MBG. Karena itu, juknis tersebut wajib dipatuhi pengelola dapur.
“Saya kira sudah ada juknisnya terkait protein, susu, dan lainnya. Harapan kami pengelola MBG mematuhi standar yang ada supaya tidak menimbulkan polemik lagi,” tegas Dedi.

Disdikbud Kendal: Satgas MBG Masih dalam Proses
Terpisah, Kepala Disdikbud Kabupaten Kendal, Ferinando Rad Bonay, menjelaskan bahwa hingga kini Pemkab Kendal masih dalam proses pembentukan Satgas MBG.
“Selama Satgas MBG belum terbentuk, kami belum bisa bertindak. Saat ini pengawasan masih dilakukan oleh Badan Gizi Nasional, sementara Disdikbud hanya sebagai penerima,” jelasnya.
Ferinando menambahkan, pihaknya belum menerima keluhan dari sekolah maupun orang tua siswa terkait menu MBG. Ia juga menyebut bahwa program MBG di Kendal masih terbatas karena jumlah dapur yang tersedia sangat sedikit.
“Masih banyak sekolah yang belum mendapatkan program MBG. Saat ini dapurnya baru sekitar 8–9 titik, seharusnya minimal ada 40 dapur,” ungkapnya.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










