SALATIGA, Harianmuria.com – Petani di Kota Salatiga khawatir regenerasi profesi mereka terhenti akibat menyusutnya lahan produktif. Banyak lahan pertanian dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman dan komersial, sehingga generasi muda enggan melanjutkan usaha pertanian keluarga.
Sugeng, seorang petani di Pulutan, Kecamatan Sidorejo, mengungkapkan bahwa anak-anak muda di lingkungannya lebih memilih bekerja di sektor non-pertanian. “Kalau sawahnya tinggal sedikit, hasilnya juga tidak seberapa. Anak-anak lebih memilih kerja di pabrik atau merantau,” ujarnya, Kamis, 14 Agustus 2025.
Lahan Pertanian Menyusut, Produksi Pangan Terancam
Data Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, luas lahan pertanian menyusut puluhan hektare. Tren ini berpotensi menurunkan produksi pangan lokal sekaligus menggerus minat generasi muda untuk menjadi petani.
Warga berharap pemerintah segera mengeluarkan kebijakan konkret agar lahan produktif yang tersisa bisa dimanfaatkan secara maksimal dan profesi petani tetap diwariskan ke generasi berikutnya.
“Area sawah dan kebun banyak beralih fungsi karena pembangunan permukiman maupun komersial. Harus ada upaya untuk mencegah alih fungsi lahan pertanian,” kata Suyono, warga setempat.
Ia menambahkan, lahan produktif bukan hanya sumber penghidupan petani, tetapi juga penyangga ketahanan pangan daerah. “Kalau sawah semakin berkurang, nanti suplai pangan kita terganggu. Kami harap Pemkot tetap menjaga dan melindungi lahan yang ada,” ujarnya.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










