SEMARANG, Harianmuria.com – Pengamat ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang, Tri Widayati, menyatakan bahwa kericuhan demonstrasi beberapa hari lalu sempat mengganggu stabilitas ekonomi.
Menurut Widayati, aksi demo yang berakhir ricuh dan disertai pelanggaran hukum menimbulkan rasa trauma di masyarakat.
“Kita pernah mengalami kericuhan pada 1998, ini menimbulkan trauma mendalam. Saat kericuhan kemarin, banyak toko yang sepi, ini jelas mengganggu perekonomian karena warga merasa tidak aman untuk keluar rumah,” ujar Widayati, Selasa, 2 September 2025.
Peran Pemerintah dan Bahaya ‘Api dalam Sekam’
Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam menjaga kestabilan ekonomi, dan harus peka terhadap kondisi sosial masyarakat, terutama di tengah ketimpangan ekonomi yang masih cukup tinggi.
“Ibarat api dalam sekam, kondisi masyarakat saat ini sudah jenuh dengan berbagai tekanan ekonomi dan sosial. Ketika muncul pernyataan dari tokoh publik yang tidak sensitif, itu seperti menyulut api,” tambahnya.
Widayati menilai bahwa demonstrasi yang berujung ricuh berdampak buruk pada kegiatan ekonomi, baik jangka pendek maupun panjang, termasuk kerusakan infrastruktur dan penurunan kepercayaan investor.
Namun, ia menekankan bahwa tidak semua demonstrasi berdampak negatif. Aksi protes yang dilakukan secara damai dan konstruktif justru bisa menjadi dorongan positif bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan memperbaiki kebijakan.
“Demo yang tertib dan bermakna bisa menjadi ruang dialog antara rakyat dan pemerintah. Namun jika ditunggangi kepentingan tertentu dan berubah anarkis, justru memperkeruh situasi,” katanya.
Pentingnya Dialog dan Kebijakan Inklusif
Lebih lanjut, Widayati menyatakan bahwa pemulihan ekonomi mulai terlihat meski perlahan. Pemerintah diharapkan terus membuka ruang dialog, menyusun kebijakan inklusif, dan meningkatkan empati terhadap masyarakat.
“Jika pemerintah menjaga komunikasi dengan rakyat, melibatkan publik dalam pengambilan keputusan, dan memberantas korupsi, saya optimis ekonomi kita bisa kembali stabil,” tutup Widayati.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










