SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa, 18 November 2025.
Langkah ini dilakukan untuk menghadapi potensi bencana di sejumlah daerah, termasuk Banjarnegara dan Cilacap, menjelang puncak musim hujan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa rapat lintas sektoral tersebut menghadirkan seluruh 35 bupati/wali kota guna melakukan pemetaan wilayah rawan bencana, seperti longsor, banjir, dan erupsi gunung berapi.
“Bencana-bencana itu kita bahas satu per satu. Tujuannya agar para bupati sebagai pengendali wilayah dapat menyiapkan upaya pencegahan saat terjadi tanggap darurat,” ujarnya.
Penguatan Tagana di Tingkat Desa
Gubernur menegaskan bahwa mitigasi bencana akan diperkuat dari tingkat desa dengan memaksimalkan Taruna Siaga Bencana (Tagana). Upaya ini dilakukan untuk menghadapi musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2026.
“Para bupati dan wali kota harus sudah memiliki mapping untuk peringatan dini, pencegahan, serta edukasi kepada masyarakat,” tandasnya.
Beberapa kabupaten yang dinilai sudah memiliki peta kerawanan matang antara lain Temanggung, Purworejo, Brebes, Batang, dan Rembang. “Seluruh daerah harus siap mulai hari ini untuk mempersiapkan Tagana serta strategi antisipasi lainnya,” imbuhnya.
Anggaran BTT Rp20 Miliar Disiapkan
Pemprov Jateng mengalokasikan Rp20 miliar dari pos Bantuan Tak Terduga (BTT) untuk penanganan bencana. Meski demikian, Gubernur Luthfi berharap anggaran tersebut tidak perlu digunakan.
“Doa kita jangan sampai ada bencana sehingga dana cadangan tersebut tidak terpakai,” tegasnya.
Relokasi Sementara untuk Korban Longsor
Dalam rapat tersebut, Pemprov Jateng juga memastikan kesiapan lahan relokasi sementara bagi warga terdampak bencana longsor di dua wilayah. Di Cilacap, khususnya Kecamatan Majenang, disiapkan lahan seluas 3,5 hektare, sementara untuk Banjarnegara disediakan 2 hektare.
“Prioritas kami adalah relokasi sementara agar warga tidak terlalu lama di pengungsian. Hunian tetap akan dipikirkan menyusul,” jelas Luthfi.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemprov Jateng berharap seluruh wilayah memiliki kesiapsiagaan maksimal menghadapi potensi bencana selama musim hujan, sekaligus memperkuat langkah pencegahan agar risiko kerugian dapat diminimalisir.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










