BLORA, Harianmuria.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora, Siswanto, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora untuk lebih aktif dalam mendukung pelaku usaha lokal agar mampu menembus pasar global, khususnya di sektor ekspor furnitur jati.
Hal ini disampaikannya menyusul tren positif ekspor produk furnitur jati asal Blora ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika.
“Ini harus diakomodasi dan didampingi. Nanti saya sampaikan langsung ke Bupati. Potensi ekspor seperti ini bisa mengangkat nama daerah dan meningkatkan pendapatan,” ujar Siswanto, Jumat, 25 Juli 2025.
Menurutnya, saat ini terdapat tiga komoditas unggulan dari Blora yang mulai dilirik pasar internasional, yakni olahan daun kelor, briket arang, dan furnitur jati. Ia mencatat, pada triwulan I tahun ini, nilai ekspor produk lokal Blora mencapai Rp13 miliar.
“Artinya, potensi ini nyata. Pemerintah harus hadir, mendampingi agar nilainya terus meningkat,” tegas Siswanto.
Pasar Internasional Lirik Furnitur Jati Blora
Salah satu pelaku usaha furnitur Blora, Widyasintha Cokronegoro, mengungkapkan bahwa produk olahan kayu jati dari Blora memiliki daya tarik tinggi di pasar global. Bahkan ketika kebijakan tarif impor Amerika Serikat diberlakukan, permintaan terhadap produknya tidak mengalami penurunan.
“Buyer dari Amerika sudah langganan lama. Kebijakan tarif tak berdampak signifikan,” ujar Widya.
Kini, kata Widya, tarif impor sudah turun menjadi 19 persen, dan permintaan kembali meningkat. “Repeat order terus datang. Terbaru, kami ekspor dua kontainer ke Kanada dan Selandia Baru dengan nilai sekitar Rp1,5 miliar,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa permintaan tertinggi berasal dari Austria dan Amerika, yang rutin memesan produk setiap bulan. Furnitur jati yang dikirim mayoritas berupa meja, kursi, dan aksesori ukiran jati yang memiliki nilai artistik tinggi.
Blora Jadi Brand Kuat di Industri Furnitur
Menariknya, brand ‘Blora’ ternyata sudah dikenal luas oleh pembeli internasional sebagai penghasil kayu jati berkualitas tinggi.
“Saat saya bilang dari Blora, buyer luar langsung tahu. Mereka bilang kualitas kayu jatinya terkenal, karena memang dari sumbernya langsung,” tutur Widya.
Untuk memenuhi tingginya permintaan ekspor, Widya bekerja sama dengan para perajin industri kecil menengah (IKM) dari berbagai desa seperti Randublatung, Seren, Ngliron, dan Nglebur.
“Kami ambil dari IKM lokal, kami yang finishing, packaging, lalu ekspor,” jelasnya.
Widya mengawali ekspor sejak mengikuti pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025, dan sejak itu mendapat banyak mitra dagang dari luar negeri.
“Awalnya coba-coba ikut pameran ekspor, dari situ tembus ke Belanda, lalu negara-negara lain,” kenangnya.
DPRD Minta Pemkab Fasilitasi Pelaku Usaha
Melihat potensi ekspor yang besar, DPRD berharap Pemkab Blora segera menyiapkan program pendampingan, pelatihan, dan akses pembiayaan bagi pelaku usaha lokal.
“Jika difasilitasi secara maksimal, saya yakin ekspor Blora bisa tembus lebih besar lagi. Ini jadi langkah nyata pemulihan ekonomi daerah,” pungkas Siswanto.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










