BLORA, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora terus menggencarkan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis atau kaki gajah. Tahun ini, sebanyak 1.885 siswa dari 53 Sekolah Dasar (SD) ditargetkan menerima obat pencegahan penyakit menular tersebut.
Kepala Dinkesda Blora, Edi Widayat, menyampaikan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya eliminasi filariasis yang dicanangkan pemerintah pusat hingga 2025.
“Hingga kini kami sudah menyasar 841 siswa dari 15 SD. Tahun ini targetnya 1.885 siswa di 53 SD. Obat diberikan secara gratis,” ujar Edi, Kamis, 4 September 2025.
Kasus Kaki Gajah Terus Menurun
Jumlah penderita filariasis di Blora tercatat tinggal 12 orang, menurun signifikan dari 25 kasus pada tahun 2005. Penurunan ini disebut hasil dari konsistensi program POPM yang dijalankan sejak 2020 di wilayah endemis.
“Suspek baru tidak ada. Penderita lama pun rata-rata sudah lebih dari 10 tahun. Bahkan sebagian sudah meninggal karena usia lanjut,” imbuh Edi.
Baca juga: Tinggal 12 Kasus! Dinkesda Blora Kejar Eliminasi Kaki Gajah Tahun 2025
Obat dan Sosialisasi di Sekolah dan Desa
Dalam program POPM, Dinkesda Blora membagikan dua jenis obat utama, yaitu Diethylcarbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole. Obat diberikan kepada masyarakat yang tergolong berisiko tinggi, termasuk anak-anak sekolah di wilayah endemis.
Selain itu, penyuluhan rutin juga dilakukan oleh puskesmas dan kader kesehatan desa. Pemeriksaan darah acak turut digelar untuk memantau efektivitas program.
“Kami juga berkoordinasi dengan pihak sekolah, kader desa, dan kelurahan agar semua siswa benar-benar mengonsumsi obatnya,” jelasnya.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Edi menekankan, meskipun kasus menurun drastis, masyarakat tetap harus waspada karena filariasis ditularkan oleh gigitan nyamuk pembawa cacing parasit, terutama di daerah tropis dengan sanitasi buruk.
“Infeksi bisa tidak menunjukkan gejala hingga bertahun-tahun. Jadi, pencegahan tetap kunci utama,” tegasnya.
Target Bebas Filariasis pada 2025
Dinkesda Blora menargetkan kabupaten ini bisa meraih status eliminasi filariasis pada 2025, sesuai dengan target nasional. Monitoring dan evaluasi berkala terus dilakukan bersama Kementerian Kesehatan.
“Penurunan kasus ini membuktikan intervensi kami tepat. Namun perjuangan belum selesai,” pungkas Edi.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










