BLORA, Harianmuria.com – Desa Ketringan, Kecamatan Jiken, Blora menjadi pionir desa mandiri energi berkat pemanfaatan panel surya untuk penerangan jalan umum (PJU) dan sistem irigasi pertanian.
Inovasi ini terwujud berkat kolaborasi antara pemerintah desa dengan perguruan tinggi, Universitas Budi Luhur (UBL), serta dukungan penuh masyarakat.
Kolaborasi Hadirkan Energi Ramah Lingkungan
Perangkat Desa Ketringan, Mohammad Romli, menjelaskan bahwa kerja sama dengan UBL memungkinkan warga memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi murah sekaligus ramah lingkungan.
“Penerapan teknologi ini menjadi langkah penghematan biaya listrik dan implementasi teknologi ramah lingkungan,” ujar Romli, Kamis, 20 November 2025.
Romli menambahkan, inovasi ini berawal dari kebutuhan pemerataan pembangunan, khususnya kebutuhan penerangan malam hari, serta penghematan energi untuk para petani yang membutuhkan pengairan.
15 PJU dan Irigasi Berbasis Panel Surya
Perwakilan dosen UBL, Debit Setiono, menjelaskan bahwa penggunaan panel surya merupakan bagian dari pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang mendukung target Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional (KEN) 2050.
Melalui kerja sama antara kampus, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Ketringan telah berhasil membangun 15 unit Penerangan Jalan Umum (PJU) bertenaga surya. Selain itu, panel surya juga dimanfaatkan untuk menggerakkan sistem irigasi, sehingga petani tidak lagi mengeluarkan biaya listrik.
“Inovasi ini berorientasi pada kebutuhan masa depan dengan integrasi smart grid dan penyimpanan energi (baterai), agar listrik tetap tersedia saat malam dan cuaca buruk,” jelas Debit.
Ia juga menyebut program ini membuka peluang riset dan edukasi bagi generasi muda desa untuk belajar tentang energi terbarukan.
Debit menilai, dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, Desa Ketringan berpotensi menjadi model pengembangan desa mandiri energi yang ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.

DPRD Blora Beri Apresiasi
Wakil Ketua DPRD Blora, Siswanto, turut mengapresiasi kreativitas warga desa yang mampu mengembangkan teknologi energi terbarukan di tengah keterbatasan infrastruktur.
Ia mengaku pernah meninjau langsung kondisi Desa Ketringan yang berada di kawasan hutan dan minim penerangan. “Pemuda dan pemdes punya kreativitas tinggi. Energi terbarukan perlu dieksplorasi bersama kampus,” ujarnya.
Menurut Siswanto, karya ini juga layak dibawa ke Kementerian ESDM agar mendapat dukungan lebih luas dan bisa diadaptasi oleh daerah lain.
“Jika kreativitas seperti ini didorong pusat, pasti bisa dikenalkan dan dikembangkan di wilayah-wilayah lain,” tambahnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










