DEMAK, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak terus berkomitmen menekan angka stunting melalui berbagai strategi terintegrasi. Meski sempat mengalami kenaikan, Demak tetap mencatatkan diri sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting terendah di Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinpermades P2KB) Demak, Taufiq Rifai, menyebutkan bahwa data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan angka stunting Demak naik tipis dari 9,5 persen menjadi 10 persen.
“Namun berdasarkan data dari aplikasi e-PPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat), yang bersumber dari penimbangan 100 persen populasi balita, angka stunting kita hanya 4,6 persen. Ini data riil,” jelasnya, Rabu, 23 Juli 2025.
Strategi Turunkan Angka Stunting
Taufiq yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) menegaskan, upaya Pemkab Demak sudah sangat maksimal. Mulai dari pemberdayaan kader, tim pendamping keluarga, hingga optimalisasi penggunaan anggaran desa (APBDes).
Strategi lainnya meliputi edukasi pranikah dan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, perbaikan pola asuh dan sanitasi lingkungan, peningkatan mutu layanan kesehatan dan akses air bersih
Pemkab Perluas Cakupan Program MBG
Sekretaris Daerah (Sekda) Demak, Akhmad Sugiharto, menambahkan bahwa Pemkab mendukung penuh program MBG dari pemerintah pusat. Tujuannya untuk meningkatkan gizi anak sekolah dan kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil.
“Program MBG ini sangat strategis untuk mencetak generasi sehat dan produktif. Selain menurunkan stunting, MBG juga mendukung peningkatan kualitas SDM di masa depan,” ujar Sugiharto.
Saat ini, baru sekitar 15 persen siswa sekolah di Demak yang telah mendapatkan manfaat MBG. Pemerintah mendorong pembentukan lebih banyak Sentra Pangan dan Pemberdayaan Gizi (SPPG) agar cakupan program dapat diperluas.
“Kami harap ke depan ada 80 SPPG yang aktif di Demak. Saat ini sudah ada 11 yang beroperasi. Kami juga minta mereka fokus di wilayah miskin ekstrem seperti daerah terdampak rob,” imbuhnya.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










