SEMARANG, Harianmuria.com – Dalam rangka memperingati 80 Tahun Kemerdekaan RI, Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII Jawa Tengah) resmi meluncurkan buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan: Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah, pada Jumat, 22 Agustus 2025, di Aula Wisma Perdamaian, Semarang.
Acara peluncuran buku ini dirangkai dengan Refleksi Kemerdekaan ke-80 RI, dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan. Kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, dr. Ikhwan Hamzah, dengan keynote speech disampaikan Ketua MUI Jawa Tengah, Dr. KH Ahmad Darodji.
“Para ulama adalah pelopor perjuangan kemerdekaan. Namun, kontribusinya belum banyak ditulis. Buku ini sangat penting sebagai bentuk penghargaan dan pembelajaran sejarah bagi generasi muda,” ujar KH Ahmad Darodji.
Buku Berisi 51 Biografi Ulama Pejuang Jateng
Menurut penyunting buku, Dr. M. Kholidul Adib, karya ini merupakan tindak lanjut dari deklarasi PW IKA PMII Jawa Tengah saat Halalbihalal di Blora pada April 2025. Buku ini menyajikan 51 biografi ulama pejuang dari era Kesultanan Demak hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Penulisan dilakukan selama dua bulan (Mei–Juni 2025) oleh anggota IKA PMII se-Jawa Tengah dengan metodologi sejarah ilmiah, mulai dari heuristik, verifikasi, interpretasi, hingga historiografi.
“Buku ini tidak hanya dokumentasi sejarah, tapi juga bahan awal untuk mengusulkan beberapa tokoh ulama sebagai Pahlawan Nasional,” jelas Adib.
Bedah Buku: Ulama, Nasionalisme, dan Pahlawan Nasional
Bedah buku menghadirkan empat narasumber: Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng), Prof. Dr. H. Arief Junaidi, M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo), Muslihah Setiasih (mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng), dan Drs. KH Ali Munir Basyir, M.Pd. (Pengasuh Ponpes Al-Firdaus Ngaliyan).
Prof. Musahadi menegaskan, sejarah perjuangan ulama wajib ditulis dengan metode valid agar dapat menjadi pijakan akademik dalam mengusulkan gelar Pahlawan Nasional.
“Sejarah tak lepas dari subjektivitas. Selama ini, kontribusi ulama dan santri kerap terpinggirkan dalam narasi resmi,” ujarnya.
Usulan Tokoh Tambahan untuk Edisi Selanjutnya
Prof. Arief Junaidi memberikan masukan tokoh-tokoh ulama yang perlu dimasukkan dalam edisi berikutnya, seperti Sunan Tembayat (penyerangan ke Malaka tahun 1521), Sultan Agung (penyerangan Batavia tahun 1628–1629), Pangeran Juminah, Kiai Rifai Kalisalak, dan Kiai Mandhur Temanggung
Ia juga menyebut KH Hasan Anwar Gubug, santri KH Hasyim Asy’ari dan mursyid tarekat, yang gugur saat melawan Belanda, layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.
Ulama Pejuang, Inspirasi Moral Bangsa
Muslihah Setiasih menekankan bahwa perjuangan ulama tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga moral dan sosial. “Melalui buku ini, kita bisa menggali nilai keberanian, keadilan, dan nasionalisme yang relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang,” tegasnya.
Senada, KH Ali Munir menegaskan bahwa para ulama terdahulu berjuang tanpa pamrih dan penuh keikhlasan.
“Senjata mereka bukan hanya bambu runcing, tapi juga nilai-nilai spiritual. Buku ini harus dikembangkan lebih dalam agar mencatat hingga ke akar perjuangan,” ujarnya.
Penulisan Buku Jadi Langkah Awal Pengusulan Pahlawan Nasional
PW IKA PMII Jateng berharap bahwa melalui buku ini, sejarah perjuangan ulama dapat diketahui lebih luas, menjadi teladan, serta membuka jalan untuk mengusulkan mereka sebagai Pahlawan Nasional.
“Kita siap iuran dan gotong royong jika memang perlu biaya besar untuk proses pengajuan gelar pahlawan,” tambah Prof. Musahadi.
Jurnalis: Subekan
Editor: Basuki










