PATI, Harianmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2025. Meski tidak diperkirakan terjadi kemarau panjang, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi krisis air bersih.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, menjelaskan bahwa kemarau tahun ini tergolong kemarau basah. Berdasarkan kalender musim, seharusnya kemarau sudah dimulai sejak April. Namun, hingga Juli 2025, wilayah Pati masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
“Sifat musim kemarau 2025 adalah kemarau basah. Artinya, masih ada curah hujan meski sudah memasuki musim kemarau. Puncak kemarau diperkirakan terjadi di bulan Agustus hingga September, lalu mulai hujan lagi pada Oktober,” ujar Martinus, Selasa, 22 Juli 2025.
Antisipasi Krisis Air Bersih dan Gagal Panen
Martinus mengingatkan bahwa kondisi ini perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi petani yang masih menanam padi. Menurutnya, petani seharusnya sudah mulai beralih ke tanaman palawija untuk menghindari risiko gagal panen.
“Kalau sekarang petani masih menanam padi, padahal Agustus curah hujan bisa berhenti, maka saat tanaman mulai berbulir, air bisa tidak tersedia lagi. Ini berisiko menyebabkan gagal panen,” lanjutnya.
Selain itu, BPBD juga mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi krisis air bersih sejak dini dengan mulai menghemat penggunaan air dan menyiapkan penampungan cadangan air.
Dalam masa peralihan musim di akhir Juli ini, BPBD juga mengingatkan warga agar mewaspadai potensi angin kencang atau puting beliung. Masyarakat disarankan memangkas pohon rimbun atau lapuk yang berisiko tumbang.
“Tidak perlu panik, tapi tetap waspada. Masyarakat cukup melakukan persiapan menghadapi dampak musim kemarau dan peralihan ini,” tegas Martinus.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










