BLORA, Harianmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora terus memantau potensi kekeringan di wilayahnya. Hingga saat ini belum ada pengajuan bantuan air bersih, namun dua kecamatan di Blora terindikasi berpotensi mengalami kekeringan cukup tinggi.
Potensi Kekeringan di Jati dan Kunduran
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Blora, Abdul Mukhid, menyebut dua kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan adalah Kecamatan Jati dan Kecamatan Kunduran.
“Beberapa desa di dua kecamatan ini memang menunjukkan tingkat kekeringan yang tinggi,” ujar Mukhid, Senin, 11 Agustus 2025
Namun demikian, ia menambahkan bahwa belum ada wilayah yang betul-betul mengalami kekeringan parah, mengingat beberapa daerah di Blora masih diguyur hujan.
“Kondisi cuaca masih belum kering sepenuhnya. Jadi saat ini kami fokus pada pemetaan wilayah rawan kekeringan, bukan penyaluran air,” jelas Mukhid.
Menurut informasi dari BMKG, musim kemarau tahun ini masuk kategori kemarau basah, sehingga tidak bisa disamakan dengan pola kekeringan tahun lalu.
“Tahun lalu, bulan Mei kita sudah siaga droping air bersih. Tapi sekarang, di bulan Agustus saja masih ada hujan,” katanya.
1.000 Tangki Air Bersih Disiapkan
Meski belum ada distribusi, BPBD Blora memastikan bahwa stok bantuan air bersih telah disiapkan sebanyak 1.000 tangki.
“Kami sudah siapkan 1.000 tangki air bersih untuk antisipasi jika sewaktu-waktu ada permintaan bantuan. Untuk rincian anggarannya nanti akan kami cek kembali,” ungkap Mukhid.
2 Desa di Kunduran Mulai Terdampak Kekeringan
Sementara itu, Camat Kunduran, Suharto, mengungkapkan pihaknya telah melakukan survei ke beberapa desa yang berpotensi kekeringan.
“Saat ini, dua desa di Kunduran sudah merasakan dampak kekeringan sejak awal Agustus, yaitu Desa Klokah dan Desa Buloh. Kami akan terus pantau dan berkoordinasi dengan BPBD,” kata Suharto.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










