BLORA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora menekankan pentingnya penyusunan roadmap (peta jalan) agroindustri sebagai arah pembangunan daerah untuk lima hingga 20 tahun ke depan.
Hal ini disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Blora, Dasiran, dalam Diskusi Terbatas Peta Jalan Agroindustri Blora 2026–2030 yang digagas Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Tengah, Rabu, 19 November 2025. Diskusi ini menghadirkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Pada kesempatan tersebut, Dasiran menyampaikan bahwa hingga kini Blora belum memiliki peta jalan agroindustri yang komprehensif. Karena itu, Pemkab mengapresiasi inisiatif JMSI Jateng dalam merintis penyusunan pedoman berbasis potensi lokal.
“Roadmap-nya memang belum ada. Karena itu saya menyampaikan apresiasi kepada teman-teman JMSI yang mulai langkah penting bersama OPD menyusun peta jalan agroindustri daerah,” ujarnya.
Infrastruktur Jadi Tantangan Utama
Dasiran menyampaikan bahwa besarnya potensi Blora tidak akan optimal tanpa dukungan infrastruktur memadai. Salah satu titik lemah yang disorot adalah aksesibilitas, terutama di wilayah selatan Blora.
Ia mencontohkan perjalanan menuju Dukuh Gempol, Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, yang memakan waktu hampir dua jam. “Infrastruktur menjadi faktor kunci jika kita ingin menggerakkan potensi agroindustri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) tahun 2026 yang berdampak pada kemampuan fiskal Kabupaten Blora. Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk melakukan efisiensi sejak akhir 2025 serta memaksimalkan pemanfaatan potensi lokal.
Blora sebagai Kabupaten Penumpu Industri
Dasiran menjelaskan bahwa visi pembangunan daerah dalam RPJPD Blora 2025–2045 telah menetapkan Blora sebagai Kabupaten Penumpu Industri dan Wana Tani Nasional pada 2045. Visi ini sudah sejalan dengan arah pembangunan provinsi dan nasional.
“Potensi Blora sangat besar dan mampu menjadi daerah penopang industri serta ketahanan pangan nasional. Ini harus dikelola dengan baik dan melibatkan seluruh pihak,” tambahnya.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media untuk menciptakan iklim investasi kondusif serta pembangunan yang berkelanjutan.
Pertanian Tulang Punggung Ekonomi Blora
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Ngaliman, menegaskan bahwa sektor pangan dan pertanian adalah tulang punggung ekonomi daerah. Hal ini menjadi dasar kuat penyusunan roadmap agroindustri 2026–2030.
“Menarik investor industri ke Blora masih sulit, sehingga sektor pertanian tetap menjadi unggulan,” ujarnya.
Berdasarkan data PDRB, kontribusi sektor P4 pada 2023 mencapai 21,45 persen, naik dari 20,80 persen pada 2022. Menurut Ngaliman, peningkatan ini menjadi mandat kuat untuk menjadikan pangan dan pertanian sebagai fondasi agroindustri.
Ngaliman menekankan bahwa DP4 tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan infrastruktur penunjang seperti irigasi.
“Air adalah kunci pertanian. Jika penyediaan air tidak menjadi prioritas, peningkatan pendapatan petani tidak akan tercapai,” tegasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










