SEMARANG, Harianmuria.com – Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda Bapas Kelas I Semarang, Puguh Setyawan Jhody, SH, MH, menjadi narasumber dalam webinar nasional yang digelar secara virtual oleh Penal Study Club Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH Unnes), Jumat, 26 September 2025.
Tema webinar adalah “Pengawasan Elektronik bagi Narapidana sebagai Upaya Modifikasi, Intervensi, dan Pemulihan Konflik.”
Pengawasan Narapidana: Lebih dari Sekadar Kontrol
Dalam pemaparannya, Puguh menyampaikan materi berjudul “Urgensi Pengawasan Narapidana: Menjaga Keamanan dan Menjamin Reintegrasi Sosial.” Ia menekankan bahwa pengawasan narapidana bukan sekadar soal kontrol, tetapi bagian dari pembinaan holistik yang menyiapkan mereka kembali ke masyarakat.
“Pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani pidana, melainkan wadah pembinaan, pemulihan, dan persiapan reintegrasi sosial bagi Warga Binaan,” jelas Puguh.
Tantangan Sistem Pemasyarakatan di Indonesia
Puguh juga menyoroti berbagai tantangan sistem Pemasyarakatan di Indonesia seperti overkapasitas (overcrowding), keterbatasan infrastruktur, dan kekurangan sumber daya manusia.
Meski begitu, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah untuk menjadikan Pemasyarakatan sebagai bagian integral dalam sistem peradilan pidana.
“Pemasyarakatan harus terlibat sejak awal hingga akhir proses peradilan, bukan sekadar pelengkap di akhir,” ujarnya.
Pengawasan Elektronik dan Efektivitas Pembinaan
Webinar ini juga menghadirkan sejumlah pakar di bidang hukum dan Pemasyarakatan, yakni Dr. Anis Widyawati selaku Akademisi FH Unnes, Dr. Ade Adhari selaku Akademisi FH Universitas Tarumanagara, dan Rohmat Hakim dari Pengadilan Negeri Tais, Bengkulu.
Diskusi interaktif membahas efektivitas pembinaan narapidana dan pengawasan elektronik. Peserta, sebagian besar mahasiswa hukum dan pemerhati sistem peradilan pidana, mendapatkan pandangan dari berbagai perspektif akademisi, praktisi hukum, dan aparatur Pemasyarakatan.
Praktisi Yuni Rosa mengatakan materi PK Bapas Semarang membuka perspektif baru mengenai pentingnya pengawasan yang berorientasi pada reintegrasi sosial.
“Setelah mendengar pemaparan Pak Puguh, saya makin yakin pendekatan pembinaan adalah jalan terbaik agar Narapidana kembali diterima di masyarakat,” ujarnya.
Sementara praktisi Vitas Giri Luke menyoroti pentingnya memahami aspek teknis dan filosofis pengawasan elektronik agar implementasinya lebih efektif.
“Saya sangat terbantu dengan forum ini. Ada banyak penjelasan teknis dan filosofis yang membuat kami sebagai praktisi lebih memahami tantangan dan peluang implementasi pengawasan elektronik,” tuturnya.
Dukungan Kepala Bapas Semarang
Kepala Bapas Semarang, Totok Budiyanto, A.Md.IP, SH, menekankan bahwa dialog seperti ini penting untuk memastikan kesinambungan antara teori, praktik, dan kebijakan dalam Pemasyarakatan.
Webinar nasional ini menjadi wadah penting mendorong dialog konstruktif antara akademisi, praktisi, dan masyarakat serta memperkuat pemahaman publik tentang pengawasan dan pembinaan narapidana.
Sumber: Bapas Kelas I Semarang
Editor: Basuki










