SEMARANG, Harianmuria.com – Sebanyak 52 dari 55 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Semarang yang menjadi penyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, mengingat tingginya risiko kesehatan di tengah distribusi makanan bergizi gratis di sekolah-sekolah.
Baru 3 Dapur SPPG Miliki SLHS
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, menyampaikan bahwa hanya tiga dapur SPPG di Kota Semarang yang telah memenuhi standar kelayakan higiene dan sanitasi.
“Yang punya SLHS baru tiga dapur SPPG di Semarang,” ungkap Hakam pada Jumat, 3 Oktober 2025.
Hakam menekankan pentingnya sertifikasi tersebut bagi semua SPPG agar menu MBG yang dibagikan di sekolah aman dan terjamin untuk dikonsumsi peserta didik.
Antisipasi Keracunan, Pemkot Lakukan Pelatihan
Di tengah maraknya kasus keracunan makanan MBG di sejumlah daerah, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) mengambil langkah antisipatif.
Kepala Dishanpan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menjelaskan pihaknya melakukan pembinaan kepada guru dan siswa penerima MBG. “Kami melakukan pembinaan bagi sekolah-sekolah untuk mengantisipasi kemungkinan keracunan dalam praktik MBG,” ujarnya.
“Detektif Pangan” untuk Siswa SD
Program pelatihan itu diterapkan di SD dengan inisiatif bernama Detektif Pangan, di mana siswa dibimbing guru untuk menguji sampel makanan matang.
“Dengan didampingi guru, mereka bisa mengetes apakah makanan mengandung pestisida, boraks, formalin, atau pewarna berbahaya seperti rhodamin,” jelas Endang.
Jurnalis: Lingkar Network
Editor: Basuki










