SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menargetkan sebanyak 1,5 juta warga mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang tahun 2026.
Target tersebut sejalan dengan arahan Kementerian Kesehatan RI yang menetapkan cakupan CKG mencapai 80 persen dari total penduduk Kota Semarang pada tahun 2026.
Pada 2025 lalu, cakupan CKG di Kota Semarang baru mencapai 42 persen atau sekitar 740 ribu warga, sehingga masih diperlukan percepatan agar target 2026 dapat tercapai.
Lansia hingga Ibu Hamil Jadi Fokus Perbaikan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan capaian tahun lalu masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah (PR), terutama pada kelompok sasaran tertentu.
“Di tahun 2025 kemarin kita masih punya PR. Lansia baru sekitar 20 persen, bayi sekitar 50 persen, termasuk calon pengantin dan ibu hamil juga belum sesuai target,” ujarnya, Rabu, 7 Januari 2026.
Dari tujuh kelompok sasaran CKG, hanya dua kelompok yang mampu melampaui target minimal 30 persen, yakni anak sekolah dan kelompok usia dewasa. Kelompok lainnya memerlukan pendekatan dan strategi khusus.
Puskesmas Diminta Susun Strategi Percepatan
Untuk mengejar target 80 persen pada 2026, Dinkes Kota Semarang telah menginstruksikan seluruh puskesmas agar menyusun strategi percepatan pelaksanaan CKG.
Sosialisasi kepada masyarakat juga mulai digencarkan sejak Januari 2026, mengingat setiap warga hanya dapat mengikuti Cek Kesehatan Gratis satu kali dalam setahun.
“Karena sudah berganti tahun, masyarakat yang sudah melakukan skrining di 2025 wajib mengikuti cek kesehatan gratis lagi di 2026,” jelas Hakam.
Baca juga: 24.900 Siswa Semarang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 74 Persen Alami Overweight
Keterbatasan Alat Masih Jadi Kendala Lapangan
Hakam mengungkapkan, dengan jumlah penduduk Kota Semarang sekitar 1,7 juta jiwa, target 80 persen berarti sekitar 1,5 juta warga diharapkan dapat terlayani.
Namun, ia mengakui target tersebut tidak mudah dicapai. Pada 2025, program CKG baru berjalan optimal mulai Februari dan masih terkendala keterbatasan alat serta bahan pemeriksaan.
“Kalau masyarakat merasa seharusnya ada 30 jenis pemeriksaan tapi yang dilakukan jauh lebih sedikit, tentu kepercayaan bisa menurun,” ungkapnya.
Untuk itu, Dinkes mendorong dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga APBD Kota Semarang agar kebutuhan alat dan bahan pemeriksaan dapat terpenuhi.

Hasil CKG 2025: Obesitas Hampir 30 Persen
Berdasarkan hasil CKG selama 2025, masalah obesitas menjadi perhatian serius. Angkanya mencapai hampir 30 persen, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
“Obesitas ini menjadi PR besar. Jika tidak diintervensi, dalam lima tahun bisa menjadi prediabetes, lalu berkembang menjadi diabetes. Sepuluh tahun ke depan risikonya bisa stroke, gagal jantung, atau gagal ginjal,” jelas Hakam.
Warga dengan Hasil Abnormal Dipantau Rutin
Dinkes memastikan program CKG tidak berhenti pada tahap skrining. Warga yang memiliki hasil pemeriksaan abnormal, seperti tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi, akan mendapatkan tindak lanjut pemeriksaan rutin.
Puskesmas melakukan pemantauan lanjutan setiap bulan guna mencegah risiko penyakit kronis.
“Yang hasilnya abnormal akan terus kami kejar untuk pemeriksaan lanjutan,” tegasnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










