SALATIGA, Harianmuria.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga menegaskan bahwa pencegahan timbulnya kawasan kumuh baru tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran serta keterlibatan aktif warga.
Melalui program penataan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) serta pemberdayaan masyarakat, Pemkot mendorong terbentuknya lingkungan yang mandiri dan mampu mengendalikan potensi kekumuhan.
Warga Aktor Utama Pencegahan Kekumuhan
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Salatiga, Susanto Adi Wibowo, menjelaskan bahwa tujuh indikator kekumuhan – mulai dari bangunan, jalan, drainase, air minum, air limbah, sampah hingga proteksi kebakaran – berhubungan langsung dengan perilaku dan budaya masyarakat.
“Infrastruktur dapat dibangun pemerintah, tetapi keberlanjutan muncul dari masyarakat. Pencegahan kekumuhan hanya efektif ketika warga menjadi aktor utama,” jelasnya, Jumat, 14 November 2025.
KSM Motor Gerakan Bebas Kumuh
DPKP juga mendorong pembentukan kelompok swadaya masyarakat (KSM) di setiap lingkungan sebagai motor gerakan bebas kumuh. Keberadaan KSM diharapkan mampu memperkuat pengawasan, mendorong gotong royong, dan melakukan edukasi perilaku hidup bersih.
Menurut Susanto, ikatan sosial antarwarga menjadi faktor penting dalam menjaga lingkungan. “Ketika warga saling mengingatkan, dampaknya lebih besar daripada intervensi fisik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam setiap survei delineasi kawasan kumuh, warga dilibatkan sebagai narasumber utama untuk memetakan kondisi riil di lapangan. Aspirasi mereka disalurkan melalui forum musrenbang, kanal aduan, hingga diskusi lingkungan.
“Beberapa warga juga ikut dalam proses konsolidasi tanah dan pembangunan rumah swadaya, terutama di kawasan yang masuk program nasional seperti Ngronggo, Kumpulrejo,” ujarnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










