PATI, Harianmuria.com – Puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga Agustus, namun sebagian wilayah di Kabupaten Pati sudah mulai mengalami krisis air bersih.
Salah satunya terjadi di Desa Tambahagung, Kecamatan Tambakromo. Terlihat pada Jumat 24 Mei 2024 kemarin, sejumlah warga berbondong-bondong datang untuk mengambil bantuan air bersih yang diberikan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) serta dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, Ali Badrudin mengingatkan kepada seluruh masyarakat khususnya yang berada di Pati Selatan untuk mewaspadai kelangkaan air bersih selama musim kemarau. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kecamatan seperti Tambakromo, Gabus, Winong, Jakenan, Jaken, hingga Pucakwangi mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.
“Ini juga harus diwaspadai, karena seperti yang terjadi sebelumnya di saat musim kemarau kita mengalami kekeringan hingga kekurangan air bersih,” imbau dewan asal Kayen ini.
Ali juga menilai pemerintah belum memberikan penanganan yang konkret untuk menangani masalah ini. Sebab, ia menyebut pemerintah hanya bisa memberikan bantuan berupa air bersih tanpa adanya penanganan agar krisis air bersih tak menjadi bencana tahunan.
“Jangan hanya diberikan bantuan setangki, dua tangki. Itu memang sangat membantu, tapi tidak menyelesaikan masalah. Pemerintah harusnya punya langkah khusus untuk ini,” imbuh politikus dari PDI Perjuangan.
Sementara itu Kepala BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya mengatakan, musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih panjang dibandingkan dengan 2023 lalu. Bahkan, puncak musim kemarau bisa molor hingga November 2024 mendatang.
“Tetapi bisa jadi mungkin sampai September-Oktober bahkan barangkali nanti di November masih ada beberapa tempat yang mengalami musim kemarau. Tahun 2024 ini musim kemaraunya akan lebih panjang dan lebih ekstrim daripada tahun 2023 kemarin,” ucap Martinus.
Sebagai informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Pati mulai terjadi Mei ini. Hal itu ditandai dengan tidak adanya hujan dalam 10 hari belakangan. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Harianmuria.com)










