PATI, Harianmuria.com – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) melalui Kepala Seksi Penerangan Jalan Umum (PJU), Andi Hariono mengungkapkan bahwa pemeliharaan lampu jalan telah rutin dilakukan. Namun sayangnya, sejak kepindahan bidang PJU ke Dishub menjadikan fasilitas berupa kendaraan penyokong pemeliharaan lampu jalan berkurang.
“PJU pindah di Dishub ini per 1 Januari tahun 2022. Cuma kemarin, kita kan punya empat armada untuk pemeliharaan. Nah, pas pindah kesini ini diminta satu DLH. Kendaraan yang crane itu kan kita punya kendaraan dua, yang crane itu untuk maintenance lampu. Itu kan diminta satu ke DLH. Jadi otomatis kendaraan dari kita memang jadi kurang satu,” ungkap Andi Hariono saat ditemui di kantornya.
Imbas dari kurangnya alat berat berupa crane tersebut menjadikan langkah pemeliharaan maupun penanganan gangguan PJU terpaksa mengantre. Pasalnya, hanya dengan satu crane pihaknya mengaku keberatan karena harus melakukan pemeliharaan PJU di 21 kecamatan se-Kabupaten Pati. Tidak hanya PJU jalan kabupaten, ia juga melakukan pemeliharaan terhadap PJU yang telah dipasang pada jalan provinsi maupun jalan nasional.
“Lha ini imbasnya karena kendaraan kita hanya satu, ya ketika ada penanganan gangguan yang mungkin harus antre. Kalau dulu kan bisa dibagi, soalnya yang kita tangani kan satu kabupaten. Artinya itu kan 21 kecamatan, sedangkan kita tiap hari pasti ada laporan. Kalaupun tidak ada laporan, kita juga punya tim survei artinya tetap kita pantau dan kita list, artinya biasanya yang kita dahulukan itu dari laporan masyarakat. Jadi ya laporan masyarakat kita dahulukan,” jelasnya.
Sementara itu, pihaknya mengaku telah melakukan usulan untuk pengadaan crane. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada kabar baik terkait pengadaan alat berat tersebut mengingat dana yang dibutuhkan terbilang besar. Sedangkan APBD di Kabupaten Pati sendiri memiliki keterbatasan. Meskipun demikian, dirinya berkomitmen dan menegaskan akan selalu melaksanakan tugas secara optimal.
“Rencana usulan crane ada tapi tergantung anggaran juga. Tapi dari pihak atas kan tetap melihat bahwa itu sebuah usulan yang lumayan. Perkiraan Rp 1 M lebih untuk crane itu. Crane itu sangat membantu untuk maintenance. Kalau tidak pakai itu ya tidak bisa. Cuma kita ya punya mobil pick up dua, itu kendaraan hanya untuk maintenance lampu hias dan lampu di desa yang sifatnya tidak terlalu tinggi. Cuma ya idealnya memang membutuhkan crane itu. Selain waktu yang dibutuhkan untuk maintenance juga lebih cepat, kemudian dari segi safety-nya dapat. Kalau pakai tangga lebih risiko. Apalagi untuk PJU yang tinggi. Kalau tangga itu maksimal kita hanya di lima sampai enam meter, itu saja sudah bahaya,” tandasnya. (Lingkar Network | Ika Tamara Dewi | Harianmuria.com)










