KUDUS, Harianmuria.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus H. Masan SE., MM., mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk lebih fokus dalam mengembangkan museum, khususnya Museum Kretek dan Museum Patiayam.
“Saya sangat mendukung adanya museum di Kota Kretek ini. Sejarah yang ada di museum perlu dijaga dan dipresentasikan melalui museum. Apalagi saat ini ada kegiatan Museum Keliling yang diagendakan oleh Disbudpar (Dinas Budaya dan Pariwisata) Kudus,” ucap H. Masan SE., MM., saat dihubungi di Kudus, Selasa (5/12/2023).
Ia berharap generasi muda penerus bangsa dan masyarakat umum dapat lebih mengenal dan menghargai sejarah daerah melalui museum.
“Dengan memahami akar sejarah, diharapkan akan muncul rasa kebanggaan dan cinta tanah air yang lebih kuat,” ujarnya.

Senada, Anggota Komisi B DPRD Kudus Yusuf Roni pihaknya meminta Pemkab Kudus untuk terus mempromosikan museum dengan cara melakukan kerja sama dengan sekolah di Kota Kretek yang memiliki resource sekolah animasi untuk dapat mengenalkan museum melalui kegiatan Museum Keliling.
Museum keliling yang telah digelar oleh Pemkab Kudus beberapa waktu lalu, dinilainya sangat baik. Pasalnya dapat mengenalkan siswa-siswi sekolah tentang keberadaan Museum Kretek maupun Museum Patiayam.
“Itu sangat baik. Kita mengenalkan kepada anak-anak tentang keberadaan museum,” kata Yusuf.
Ia memberikan contoh supaya museum dapat menarik siswa-siswi sekolah. Misalkan, di Museum Kretek ada studio mini.
“Kemudian, di Museum Patiayam juga bisa dibikin untuk hal tersebut. Bisa menceritakan tentang sejarah masa lalu Kabupaten Kudus. Seperti mengenai ditemukannya beberapa fragmen purbakala di situ. Jadi mereka ada daya tarik senang dan imajinasi yang muncul. Itu bisa bentuk animasi dokumenter. Kalau konteksnya anak-anak bikin animasi itu bagus. Toh, kita punya resource di Kudus sekolah animasi,” jelasnya.
Menurutnya, Pemkab Kudus bisa bekerja sama dengan SMK Raden Umar Said (RUS) untuk mengembangkan animasi tentang bahan materi, fosil, dan benda unik lainnya.
“Maka anak-anak SMK bisa membayangkan langsung seperti apa. Akhirnya, juga bisa menjadi sebuah film animasi yang menceritakan tentang Kudus seperti di Patiayam itu. Menurut saya ada daya tarik yang baru sehingga daya tarik muncul otomatis berdampak ekonomi di masyarakat sekitar. Tapi ketika ada yang berkunjung di sana dilihat monoton, hasilnya merembet ke pedagang atau warung yang berjualan di situ tak ada pembeli,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa Kabupaten Kudus merupakan salah satu wilayah yang istimewa. Pasalnya, kata dia, Tim BPSMP Sangiran memperkirakan umur fosil-fosil di Museum Patiayam satu era dengan fosil di Sangiran yaitu sekitar 300 tahun yang lalu.
“Kudus termasuk istimewa karena dapat ditemukan fosil-fosil. Kita bisa menceritakan kembali mengenai sejarah peradaban manusia purba zaman dahulu,” imbuhnya. (Lingkar Network | Ihza Fajar – Harianmuria.com)










