BLORA, Harianmuria.com – Ratusan warga Desa/Kecamatan Jiken, Blora menggelar aksi demo di PT Pentawira pada Jumat, 14 November 2025. Dalam aksi itu, warga mengungkapkan dugaan pungutan sebesar Rp3 juta untuk bisa diterima sebagai karyawan di perusahaan tersebut.
Selain pungutan, warga juga menuntut transparansi dalam proses rekrutmen, terkait seorang warga yang telah menjalani dua kali interview namun tanpa kejelasan hasil.
Warga Keluhkan Pungutan oleh Oknum
Koordinator aksi, Galuh, membenarkan adanya keluhanan warga terkat pungutan oleh oknum pegawai untuk bisa bekerja di PT Pentawira.
“Kalau warga tadi ada yang mengeluh adanya perekrutan saling menyogok,” ujarnya.
Menurutnya, hal ini bertentangan dengan janji awal perusahaan yang disebut akan menyerap hingga 800 tenaga kerja lokal dari Dukuh Kedungserut, Desa Jiken.
“Awalnya dijanjikan 800 orang akan direkrut. Sampai hari ini tidak tahu berapa yang diterima, karena tertutup dan tidak transparan,” jelasnya.
Baca juga: Warga Jiken Blora Demo PT Pentawira, Tuntut Transparansi Rekrutmen dan Dampak Operasional
Tuntutan Kompensasi atas Dampak Polusi
Selain isu rekrutmen, warga juga menyoroti dampak polusi dari aktivitas industri kalsium PT Pentawira yang dinilai mengganggu kenyamanan warga, terutama debu dan kebisingan.
Galuh menyesalkan belum adanya kompensasi yang diberikan kepada warga Dukuh Kedungserut.
“Debu selalu ada, rumah warga dulu sering kotor. Kalau kebisingan sampai tidak bisa tidur malam,” kata Galuh.
Janji Pertemuan dengan Pemilik Perusahaan
Dalam aksi tersebut, warga dan pihak perusahaan menyepakati pertemuan dengan pemilik PT Pentawira, Alim, pada Senin, 17 November 2025. Kesepakatan itu dijamin oleh Kapolres Blora melalui Kapolsek Jiken, AKP S. Bekti.
“Kami dijanjikan bertemu Pak Alim hari Senin. Kalau tidak ditepati, warga akan memaksa tutup pabrik,” tegas Galuh.
Aksi warga diwarnai berbagai spanduk tuntutan, antara lain: “Warga Desa Jiken peduli lingkungan. Tolak operasional tanpa izin dan kajian dampak lingkungan”; “Lingkungan bersih warga sehat”; “Kami hanya ingin izin jelas, lingkungan aman, dan warga sejahtera”; dan “Buka kesempatan kerja untuk warga lokal secara transparan.”
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










