BLORA, Harianmuria.com – Tanah ambrol mengancam permukiman warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Kapolsek Banjarejo, AKP Gembong, turun langsung melakukan pengecekan lokasi pada Jumat sore, 26 Desember 2025.
Dari hasil pengecekan sementara, terdapat tiga rumah warga yang dinilai berada dalam kondisi rawan dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.
3 Rumah Warga Terancam, Kerugian Rp10 Juta
AKP Gembong menjelaskan, pihak kepolisian telah melakukan pendataan awal terhadap rumah-rumah yang terdampak. Selanjutnya, hasil tersebut akan dilaporkan ke pimpinan sebagai dasar penanganan lanjutan.
“Rumah yang terdampak kita data terlebih dahulu. Setelah itu akan kami laporkan ke pimpinan untuk ditindaklanjuti. Nantinya akan dikoordinasikan dengan BPBD, serta BBWS Pemali Juana karena terkait aliran sungai,” ujar AKP Gembong.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan retakan tanah memiliki panjang sekitar 200 meter, dengan kedalaman bervariasi antara 30 hingga 70 sentimeter. Jarak lokasi ambrolan dengan aliran sungai terdekat sekitar 100 meter.
“Yang terdampak ada tiga kepala keluarga. Kerugian material ditaksir sekitar Rp10 juta. Beberapa tembok rumah terlihat retak bahkan ada yang ambrol,” tambahnya.
Baca juga: 3 Rumah Warga di Blora Terdampak Pergerakan Tanah Akibat Gerusan Sungai Lusi
Pernah Terjadi Tahun 2001, Musala Sempat Hilang
Berdasarkan keterangan warga setempat, kejadian tanah ambrol tersebut bukan yang pertama. Insiden serupa pernah terjadi pada tahun 2001 silam dan menyebabkan satu bangunan musala hilang akibat amblesan tanah.
“Ini sudah yang kedua kalinya. Dulu sekitar tahun 2001,” ungkap AKP Gembong.
Dengan mempertimbangkan riwayat kejadian dan kondisi cuaca saat ini, pihak kepolisian mengusulkan agar warga yang rumahnya paling terdampak segera direlokasi.
“Harapan saya korban yang paling terdampak bisa direlokasi lebih dulu untuk menghindari korban jiwa. Curah hujan saat ini masih tinggi,” tegasnya.
Dinas PUPR Koordinasi dengan BPBD dan BBWS
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora mengaku telah menerima informasi awal terkait pergerakan tanah di Dukuh Sambiroto.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
“Setelah menerima informasi awal, kami langsung berkoordinasi dengan BPBD dan menyampaikan juga ke BBWS Pemali Juana. Harapannya lokasi ini bisa masuk penanganan prioritas pada tahun anggaran berikutnya,” jelasnya.

Laporan Resmi Desa Masih Ditunggu
Meski demikian, hingga saat ini Dinas PUPR Blora belum menerima laporan resmi secara tertulis dari pemerintah desa setempat. Pihaknya mendorong agar laporan segera disusun agar proses penanganan dapat berjalan lebih cepat.
“Laporan resmi dari desa memang belum kami terima. Kami harapkan segera dibuatkan laporan ke BPBD dengan tembusan ke Dinas PUPR, supaya bisa kami kompilasi dan koordinasikan,” ujarnya.
Jika laporan resmi telah masuk, Dinas PUPR bersama instansi terkait akan melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi terkini. Penanganan ke depan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas dan ketersediaan anggaran.
“Penanganan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, sehingga harus dilakukan bertahap. Kami mohon masyarakat bersabar,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










