BLORA, Harianmuria.com – Polres Blora mendirikan Posko Gabungan di Bendungan Dluwangan, Kelurahan Jetis, untuk memaksimalkan operasi pencarian tiga korban tenggelam di Sungai Lusi. Sebelumnya, dua dari lima korban yang hilang berhasil ditemukan.
Pencarian Dimaksimalkan di 4 Titik
Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto mengatakan bahwa posko gabungan akan beroperasi hingga proses pencarian tuntas.
“Kita dirikan posko gabungan di Bendungan Dluwangan. Pencarian akan dimaksimalkan sampai seluruh korban ditemukan,” ujarnya, Kamis, 11 Desember 2025.
Pihak kepolisian belum dapat memastikan berapa lama proses penyisiran berlangsung. Namun personel Polres Blora diterjunkan dalam penyisiran Sungai Lusi.
“Ada empat titik penyisiran. Kita maksimalkan peralatan yang ada, mulai dari jaring hingga sarana-prasarana masing-masing instansi,” tambahnya.
Baca juga: 1 Anak yang Tenggelam di Sungai Lusi Blora Ditemukan Meninggal, 4 Masih Dicari
Dua Korban Ditemukan Meninggal
Hingga Kamis siang, dua dari lima korban hilang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal. Korban pertama ditemukan berjarak sekitar 200 meter, sedangkan korban kedua ditemukan sekitar 600 meter dari titik awal kejadian.
“Korban hanyut ada delapan anak dengan tiga selamat. Dari lima yang hilang, dua sudah ditemukan,” tambah AKBP Wawan.
Kapolres mengungkapkan, delapan korban adalah warga Blora dari beberapa kecamatan yang belajar di salah satu pondok pesantren di Blora.
“Jadi berdasarkan keterangan yang kita dapatkan, bahwa kedelapan anak ini bermain di pinggir sungai untuk mencari kerang,” tambahnya.
Baca juga: 5 Anak di Blora Hilang Tenggelam di Sungai Lusi, Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Kronologi Korban Hanyut Tenggelam
Seperti diberitakan sebelumnya, insiden ini terjadi pada Kamis pagi ketika delapan santriwati dari Pondok Pesantren Al-Maun bermain di tepi Sungai Lusi. Menurut Kasat Reskrim Blora AKP Zaenul Arifin, sekitar 60 anak sedang mengunjungi pondok karena masa libur setelah ujian.
Delapan anak tersebut memisahkan diri untuk bermain di sungai. “Keterangan dari ustaz, anak-anak suka mencari kerang saat kondisi sungai mengering,” tuturnya.
Diduga arus sungai yang cukup kuat membuat anak-anak itu terseret dan tidak dapat kembali ke tepian. Lima anak dilaporkan hilang, sementara tiga lainnya berhasil ditemukan selamat.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










