BLORA, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora mencatat total 107 kasus kematian ibu dan bayi sepanjang tahun 2025 hingga awal Desember. Rinciannya, 9 kasus kematian ibu dan 98 kasus kematian bayi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkesda Blora, Diah Pusparini, mengungkapkan bahwa angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2024, yakni 13 kematian ibu dan 144 kematian bayi. Meski menurun, total 107 kasus ini tetap menjadi perhatian serius.
Penyebab Utama Kematian Ibu
Menurut Diah, sebagian besar kasus kematian ibu terjadi karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung kehamilan. Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, jantung, hingga hipertiroid menjadi faktor utama.
“Sebetulnya tidak layak hamil, tapi tetap memaksakan diri sehingga berisiko tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Angka Kematian Ibu (AKI) juga dipicu faktor usia, terutama yang termasuk kategori 4T: terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak.
Kematian Bayi Didominasi BBLR
Untuk Angka Kematian Bayi (AKB), hampir 50 persen disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kondisi ini berkaitan erat dengan kesehatan ibu selama kehamilan – mulai dari anemia, kekurangan gizi, hingga penyakit lain yang memengaruhi perkembangan janin.
“Bayi kecil itu penyebabnya karena ibu tidak layak hamil atau memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik,” terang Diah.
Langkah Dinkesda Tekan AKI dan AKB
Berbagai langkah terus dilakukan Dinkesda Blora untuk menekan angka kematian ibu dan bayi. Mulai dari peningkatan kualitas SDM kesehatan, penambahan dokter spesialis kandungan di fasilitas kesehatan, hingga pemenuhan sarana dan prasarana.
“Di 26 puskesmas sudah tersedia USG, sehingga pemeriksaan tidak harus ke rumah sakit,” kata Diah.
Sementara itu, untuk kasus keguguran, Dinkesda hanya melakukan pencatatan. Kategori ini belum termasuk indikator prioritas nasional, berbeda dengan kematian ibu dan bayi.
“Kami tetap mencatat, tetapi fokus indikator nasional masih pada penurunan kematian ibu dan bayi,” tambahnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










