SEMARANG, Harianmuria.com – Bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir dan tanah longsor, masih menjadi jenis bencana yang paling mendominasi di Jawa Tengah (Jateng) sepanjang periode 1 Januari 2025 hingga 1 Januari 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mencatat ratusan kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah selama tahun 2025, dengan tren yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Tren Kebencanaan 2025 Meningkat
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jateng, Muhammad Chomsul, menyampaikan bahwa rekapitulasi data kebencanaan per 31 Desember 2025 menunjukkan peningkatan baik dari sisi jumlah kejadian maupun dampaknya.
“Secara umum, tren kebencanaan di 2025 ini memang meningkat dibandingkan 2024. Jawa Tengah masih didominasi bencana hidrometeorologi basah, yakni banjir dan tanah longsor,” ujar Chomsul.
Selain banjir dan longsor, bencana cuaca ekstrem serta kebakaran bangunan dan permukiman juga masih kerap terjadi di sejumlah daerah.
Banjir Paling Banyak Terjadi di 2025
Berdasarkan data BPBD Jatengh, banjir menjadi bencana paling sering terjadi sepanjang tahun 2025, dengan 137 kejadian. Di urutan berikutnya cuaca ekstrem 114 kejadian dan tanah longsor 43 kejadian.
Berikutnya kebakaran hutan dan lahan 20 kejadian. kekeringan 16 kejadian, kebakaran gedung dan permukiman 16 kejadian, gempa bumi satu kejadian, serta kegagalan teknologi satu kejadian.
Longsor Sumbang Korban Jiwa Terbesar
Meski jumlah kejadian longsor lebih sedikit dibanding banjir, bencana tanah longsor justru menjadi penyumbang korban jiwa terbesar di Jawa Tengah selama 2025.
“Untuk korban jiwa, longsor di beberapa wilayah menjadi penyumbang terbesar,” ungkap Chomsul.
Kejadian longsor besar yang menelan banyak korban antara lain di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dengan 25 orang meninggal dan 1 orang hilang, serta Kabupaten Cilacap dengan 23 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang.
Korban terbanyak terjadi di Kabupaten Banjarnegara, di mana longsor menyebabkan 28 orang meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan hilang
Banjir Masih Terjadi hingga Akhir Tahun
Memasuki akhir 2025, sejumlah bencana masih terjadi di berbagai daerah. Berdasarkan infografis BPBD Jawa Tengah per 31 Desember 2025, banjir masih melanda wilayah pantura, khususnya Kota Tegal dan Kabupaten Tegal.
Di Kota Tegal, banjir menggenangi 386 rumah dan berdampak pada 359 kepala keluarga atau 1.328 jiwa, serta menyebabkan 152 warga mengungsi. Sementara di Kabupaten Tegal, banjir berdampak pada 779 jiwa dari 272 kepala keluarga dengan 210 rumah terendam.
“Selain banjir, kami juga mencatat kejadian tanah longsor di Kabupaten Temanggung, cuaca ekstrem di Kabupaten Magelang, gempa bumi di Kabupaten Purbalingga, serta beberapa kebakaran di Kabupaten Semarang dan Cilacap,” tambahnya.
BPBD Jateng Antisipasi Cuaca Ekstrem 2026
Menghadapi puncak cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026, BPBD Jateng telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.
Sejak Oktober 2025, BPBD Jateng telah melakukan koordinasi lintas sektor serta mengaktifkan kesiapsiagaan di daerah guna meminimalkan risiko dan dampak bencana bagi masyarakat.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










