REMBANG, Harianmuria.com – Upaya pelestarian warisan intelektual Nusantara terus diperkuat oleh Perpustakaan Masjid Jami Lasem. Terletak di pusat kota pusaka Lasem, perpustakaan ini kini mengelola sedikitnya 19 naskah kuno (manuskrip) yang berasal dari tokoh masyarakat dan keluarga yang memiliki tradisi keilmuan di wilayah tersebut.
Manuskrip Dirawat dengan Metode Modern
Kepala Perpustakaan Masjid Jami Lasem, Abdullah Hamid, menjelaskan bahwa seluruh manuskrip tidak hanya dipajang sebagai koleksi museum, tetapi dirawat menggunakan metode pelestarian modern – mulai dari katalogisasi, media penyimpanan khusus, digitalisasi, hingga publikasi untuk kepentingan akademik.
“Koleksi tersebut kami dapatkan dari berbagai tokoh masyarakat, di antaranya keluarga Syaikh Mustofa al-Lasimy, imam rawatib Masjid Jami Lasem, pensiunan modin Karangturi, tokoh NU Kendal, pensiunan pejabat Departemen Kehutanan, hingga warga,” ungkap Abdullah, Sabtu, 15 November 2025.
Abdullah menegaskan bahwa pengumpulan naskah dari masyarakat masih berlanjut, terutama bagi pemilik manuskrip yang kesulitan merawat atau mengkaji isinya.
“Urgensinya adalah pelestarian dan pengkajian. Dengan dikumpulkan, naskah bisa diakses masyarakat luas, terutama untuk kepentingan penelitian,” jelasnya.
Digitalisasi: Jaga Keawetan, Perluas Akses
Digitalisasi menjadi fokus utama, agar naskah tetap terjaga dari kerusakan akibat sentuhan langsung namun tetap mudah diakses publik secara daring.
“Naskah berisi macam-macam: ilmu pengetahuan, sejarah, sains, sastra, dan lainnya. Jika terlalu sering disentuh, bisa cepat rusak. Dengan digitalisasi, naskah tetap awet dan bisa diakses melalui laman perpustakaan provinsi,” jelasnya.
Saat ini, koleksi manuskrip Masjid Jami Lasem dapat diakses di platform digital Pujangga Jawa Tengah: pujangga.perpus.jatengprov.go.id/naskah/rembang.
Abdullah juga mengungkap adanya penambahan koleksi terbaru yang berasal dari Kendal. Selain manuskrip, perpustakaan ini menyimpan pustaka cetakan lama, termasuk karya penting ulama Nusantara.
“Terdapat koleksi cetakan asli Singapura berusia sekitar 100 tahun, yaitu kitab Tafsir Faidh ar-Rahman karya Kiai Sholeh Darat,” tambahnya.

Ajak Masyarakat Wakaf Manuskrip
Pihak perpustakaan membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyerahkan atau mewakafkan naskah kuno. Adapun kriteria manuskrip yang diterima:
- Dokumen tulisan tangan, bukan hasil cetakan mesin;
- Berusia minimal 50 tahun;
- Memiliki nilai pengetahuan, sejarah, atau budaya.
“Siapapun yang memiliki naskah kuno harus merawatnya dengan baik. Jika kesulitan atau ingin hasil kajiannya dinikmati lebih banyak orang, manuskrip tersebut bisa diwakafkan kepada kami,” jelas Abdullah.
Masyarakat yang ingin menyerahkan naskah dapat mendatangi Perpustakaan Masjid Jami Lasem atau menghubungi Abdullah Hamid di nomor 0896-1767-5345.
Dengan langkah pelestarian tersebut, Masjid Jami Lasem kian mengokohkan posisinya sebagai salah satu pusat penting khazanah intelektual Islam Nusantara.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










